JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis ekspor Indonesia tahun depan dapat tumbuh di tengah tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Menurut Budi, tarif Trump tidak akan menjadi penghalang pertumbuhan ekspor nasional di tahun depan.
“Oh enggak, enggak (tarif Trump mengganggu ekspor pada 2026). Jadi kami optimis terus. Kan itu udah ada, kita kan bikin 5 tahun, itu yang (pertumbuhan) tahun ini 7,1 persen. Tahun sekian sampai tahun 2029 itu 9 persen,” katanya ditemui di Jakarta Selatan, Kamis, 4 Desember.
Menurut Budi, proyeksi ekspor yang dipasang tersebut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di angka 8 persen.
“Ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen. Jadi itu kita udah ada hitung-hitungannya, dan kami optimistis. Optimistis tercapai,” ujarnya.
Di samping itu, Budi juga bilang pemerintah masih menunggu keputusan AS terkait dengan negosiasi tarif yang dikenakan untuk Indonesia.
“Belum, masih nunggu ya. Mudah-mudahan ya, masih nunggu,” ucapnya.
Terkait dengan target ekspor di tahun ini, Budi juga mengaku optimistis bisa tercapai di angka 294,5 miliar dolar AS.
Meskipun, saat ini ekspor nasional baru berada di level 79,5 persen dari target.
“Kan naiknya akhir tahun kan 7,1 persen, sekarang tumbuh 6,96 persen (sepanjang Januari hingga Oktober 2025). Jadi kami kejar nanti, target kami lho, target kami yang menentukan. Nah nanti, mudah-mudahan Desember lebih dari 7,1 persen,” kata Budi.
BACA JUGA:
Budi bilang, optimisme tersebut semakin kuat setelah berdialog dengan Kadin Indonesia, dan Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI).
“Kemarin kami kan diskusi dengan Kadin, dengan GPEI bahwa optimistis bahwa itu akan tercapai,” ujarnya.