Bagikan:

JAKARTA - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Peningkatan Produksi/Lifting Migas Nanang Abdul Manaf mengungkapkan, terdapat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asing yang berminat menggarap ladang minyak di Indonesia.

Nanang mengungkapkan, hasil ini didapat setelah pihaknya melakukan roadshow ke Inggris untuk menawarkan blok-bblok migas yang ada di Indonesia.

"Ini ada tim yang roadshow ke London, ada 30 investor hadir, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti BP, Shell, Equinor, Equinor dulu Star Oil ya, dari Norway," ujar Nanang, Rabu 3 Desember.

Selanjutnya, sambung Nanang, KKKS lain yang tertarik adalah EnQuest, perusahaan eksplorasi dan produksi migas yang berbasis di Inggris. Asal tahu saja, saat ini EnQuest tengah melakukan joint study di WK Migas Gaea, Papua Barat.

Tak hanya itu, wilayah kerja migas Indonesia juga dilirik oleh pendatang baru seperti Upland Resources Limited yang berminat atas 3 blok migas di Indonesia.

Nanang melanjutkan, CPC Corporation asal Taiwan juga telah menyatakan ketertarikan dan meminta komunikasi langsung dengan Satgas untuk mendapatkan pendampingan teknis.

"Dari Taiwan, ada yang namanya CPC. Nah, mereka juga tertarik, bahkan minta langsung komunikasi dengan tim kami ya, untuk mendapatkan advice," jelas Nanang.

Sementara itu Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengungkapkan jika Indonesia memiliki potensi 128 cekungan migas. Dari jumlah itu, 20 cekungan telah diusahakan, menyisakan 108 cekungan dengan potensi besar. Untuk melengkapi data potensi Migas, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mempercepat ketersediaan data, baik data survei 2 dimensi, 3 dimensi, maupun data eksplorasi, yang dapat menjadi kelengkapan data eksplorasi.

"Harapannya itu Bapak Ibu sekalian pada saat wilayah kerja ini kita tawarkan kepada badan usaha, baik dalam rangka konsorsium ataupun dalam rangka joint venture itu dipersilahkan. Jadi kami mengharapkan itu nanti terhadap seluruh potensi minyak dan gas di dalam negeri itu bisa kita optimalisasikan dalam rangka ketahanan dan kecukupan energi di dalam negeri," jelas Yuliot.