Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan, akses jalan dari Barus menuju Sibolga bisa ditembus pada hari ini imbas bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera beberapa hari ini.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, Sumatera Utara (Sumut) menjadi provinsi dengan dampak paling parah dibandingkan yang lainnya.

"Yang paling parah itu Sumut, karena akses dari arah selatan belum tembus. Kami fokus membuka jalur dari Barus menuju Sibolga," ujar Dody dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin, 1 Desember.

Dody menjelaskan, jalan tersebut merupakan akses krusial agar bantuan, termasuk logistik, air bersih dan kebutuhan darurat bisa masuk lebih cepat.

"Jika cuaca dan pasokan solar mencukupi, kami targetkan Senin sore sudah bisa tembus," katanya.

Dia menegaskan, percepatan pembukaan akses jalan menjadi prioritas utama. Dia bahkan telah memerintahkan agar alat berat dari proyek-proyek BUMN Karya ditarik ke titik bencana.

"Saya sudah perintahkan sejak tiga hari lalu agar alat berat dari proyek-proyek BUMN Karya ditarik ke titik bencana. Ini prioritas nasional. Tanpa terbukanya jalan, seluruh bantuan akan terlambat sekali dan bisa menimbulkan masalah sosial di lapangan," tegas dia.

Adapun penanganan bencana di Sumut dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Utara bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II dan Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBP) Sumut.

BPJN Sumut mengerahkan 38 alat berat yang sudah berada di lokasi dan 9 lainnya sedang dalam perjalanan. Sementara, total kebutuhan penanganan sebanyak 52 unit, sehingga masih dibutuhkan tambahan lima alat berat untuk memperkuat pekerjaan di lapangan. 

Di samping itu, BBWS Sumatera II memperkuat penanganan dengan mengirim dua unit excavator, dua perahu karet serta bantuan bahan banjir untuk kebutuhan darurat. 

Pembukaan akses Tarutung–Sibolga telah mencatat progres 28 titik, sementara akses Tarutung–Sipirok juga mulai terbuka dengan selesainya penanganan pada satu titik kritis. 

Selain itu, BBWS melakukan pembersihan material longsor di Humbang Hasundutan dan membantu evakuasi warga terjebak genangan banjir di Kota Medan menggunakan dua perahu karet. Bantuan kemanusiaan berupa 50 selimut, kasur dan paket sembako juga telah disalurkan.

Dukungan bahan bakar sebanyak 3.000 liter pun telah terpenuhi untuk kebutuhan operasional satu hari ke depan, sedangkan suplai berikutnya terus disiapkan secara bertahap.

Kementerian PU juga menyiapkan material penanganan darurat, seperti geobag, sheet pile dan jembatan bailey.

Hingga saat ini, akses darat menuju Kota Sibolga dan wilayah Tapanuli Tengah masih terhambat, sementara komunikasi hanya dapat dilakukan melalui jaringan satelit Starlink yang dipasang instansi terkait.

Untuk diketahui, banjir dan longsor melanda 11 kabupaten/kota di Provinsi Sunut. Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal dan Dairi, menjadi wilayah dengan kerusakan terparah.

Mengingat ada kerusakan pada dua jalur strategis yang menjadi akses utama logistik.

Sementara Ruas Tarutung–Sipirok terdapat 49 titik longsor dan hingga 29 November pukul 20.00 WIB, sebanyak 14 titik telah berhasil dibersihkan.

Kemudian, Ruas Tarutung–Sibolga terdampak 35 titik dan penanganan telah mencapai 17 lokasi.

Selain longsor, terdapat 17 titik jalan putus terdiri dari 13 kerusakan badan jalan dan empat kerusakan pada jembatan atau oprit.