Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, perlunya insentif fiskal untuk industri otomotif nasional pada 2026, menyusul pernyataan sebelumnya dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebut industri tersebut sudah cukup kuat dan tidak akan mendapat insentif tahun depan.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, tak ada insentif yang akan diberikan untuk industri otomotif pada tahun depan.

"Insentif tahun depan tidak ada karena industrinya sudah cukup kuat, apalagi sudah ada pameran ini (GJAW)," katanya kepada wartawan di ICE BSD, Rabu, 26 November.

Kemenperin menilai, indikator utama industri otomotif, yaitu penjualan domestik mobil yang diproduksi di dalam negeri sedang mengalami penurunan tajam. Insentif dinilai krusial untuk mempertahankan utilisasi pabrik, melindungi investasi, serta mencegah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menyatakan, adanya kekeliruan jika menilai industri otomotif kuat hanya berdasarkan pertumbuhan di segmen tertentu, khususnya kendaraan listrik (EV).

"Penurunan tajam penjualan kendaraan bermotor roda empat jauh di bawah angka produksinya di kala penjualan kendaraan EV impor naik tajam adalah fakta tidak bisa dihindari dan harus menjadi indikator pertumbuhan industri otomotif nasional saat ini. Kami memandang dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut," ujar Febri dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 1 Desember. 

Berdasarkan data Kemenperin, memang terjadi pelemahan parah di segmen yang menjadi tulang punggung produksi nasional. Penjualan Wholesales (Jan-Okt 2025) hanya 634.844 unit, turun 10,6 persen secara tahunan (yoy) dibanding 711.064 unit pada periode sama tahun lalu.

Selain itu, produksi kendaraan turun dari 996.741 unit (2024) menjadi 957.293 unit (2025). Penurunan paling dalam terjadi pada segmen yang menyasar konsumen menengah-bawah, terdiri dari:

• Segmen entry (< Rp200 juta): Anjlok 40 persen

• Segmen low (Rp200–400 juta): Merosot 36 persen

• Kendaraan komersial: Turun 23 persen

Di sisi lain, meskipun penjualan EV naik signifikan (total 69.146 unit pada 2025), 73 persen di antaranya merupakan EV impor. Kondisi itu berarti nilai tambah, produksi dan penyerapan tenaga kerja berada di luar negeri.

Febri juga membantah klaim Menko Airlangga terkait banyaknya pameran menunjukkan industri kuat. Menurut Jubir Kemenperin itu, banyaknya pameran justru adalah upaya dan perjuangan industri untuk mempertahankan sisi permintaan (demand) di tengah anjloknya penjualan domestik dan melindungi pekerjanya dari PHK.

"Sekali lagi, kami harus menggunakan data statistik yang ada untuk menggambarkan kondisi obyektif industri otomotif saat ini dan tidak menggunakan jumlah event pameran otomotif," terang Febri.