Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, indeks kepercayaan industri (IKI) pada November 2025 mencapai 53,45. Angka itu turun 0,05 poin dari IKI pada Oktober 2025 yang tercatat sebesar 53,50.

"Nilai IKI di November 2025 adalah 53,45 persen. Nilai IKI ini sedikit menurun 0,05 poin dibandingkan dengan Oktober 2025 yang sebesar 53,50," ujar Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam Rilis IKI November 2025 di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis, 27 November.

Selain itu, jika dibandingkan dengan IKI pada November tahun lalu sebesar 52,95, besaran IKI November 2025 ini juga terhitung meningkat sebesar 0,50 poin, yakni di 53,45.

Febri menambahkan, pada November ini ada 22 subsektor mengalami ekspansif. Kontribusi dari 22 subsektor itu terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 98,8 persen.

Dengan kata lain, subsektor-subsektor IKI berstatus ekspansif tersebut adalah subsektor yang besar-besar kontribusi PDB-nya.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri pengolahan tembakau (KBLI 12) dan industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional (KBLI 21).

"Untuk industri pengolahan tembakau saat ini sedang giat-giatnya produksi olahan tembakau karena memang sudah melewati masa panen tembakau," kata Febri.

"Sedangkan industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional ini juga (IKI-nya) tertinggi. Kami menduga sementara ini disebabkan karena belanja pemerintah, terutama belanja produk jaminan kesehatan nasional terhadap industri farmasi itu meningkat pada masa-masa akhir tahun," tambahnya.

Namun demikian, Febri bilang, ada satu subsektor yang tercatat mengalami penurunan kinerja, yakni industri tekstil. "Jadi, satu subsektor industri mengalami kontraksi adalah industri tekstil," kata dia.

Dia mengungkapkan, berdasarkan variabel pembentuk IKI, maka ada tiga hal, yakni variabel pesanan baru, variabel produksi dan variabel persediaan produk.

"Berdasarkan variable IKI, variabel pesanan baru mengalami peningkatan sebesar 0,68 poin atau mencapai 55,93. Sebaliknya, nilai IKI variabel kesediaan produk mengalami perlambatan sebesar 0,33 poin atau mencapai 56,19. Selanjutnya, nilai IKI variabel produksi masih kontraksi dan melambat sebesar 1,08 poin atau mencapai 47,49 poin," terang Febri.

Untuk IKI ekspor dan domestik masih menunjukkan tren ekspansif pada November 2025.

IKI ekspor pada November 2025 tercatat berada pada level 54,18 atau turun sebesar 0,17 poin dari Oktober 2025 yang mencapai level 54,35.

Sementara itu, IKI domestik juga masih berada dalam fase ekspansif pada level 52,71.

Angka tersebut mengalami kenaikan 0,37 poin dibanding Oktober 2025 yang berada di level 52,34.

"Kami melihat kenaikan IKI domestik dari 52,34 menjadi 52,71 itu sebagian disebabkan karena pernyataan optimisme dari Menteri Keuangan, Pak Purbaya," jelasnya.

Selain itu, kondisi kegiatan usaha secara umum pada November 2025 cenderung sebanding dengan bulan sebelumnya, yakni sebanyak 78 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil.

Optimistis pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan masih menunjukkan adanya tren peningkatan optimisme dalam enam bulan terakhir, yaitu sebesar 71,0 persen.

Angka tersebut naik 0,5 persen biladibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya.