JAKARTA - Menteri Perindustrian (,Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, peresmian pabrik baru Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, merupakan bukti Indonesia masih menjadi tujuan utama investasi global.
Fasilitas baru yang diresmikan oleh Presiden Prabowo itu menandai realisasi komitmen investasi jangka panjang dari Lotte Group dan menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim industri di Indonesia, khususnya pada sektor kimia dasar.
"Pembangunan pabrik ini menunjukkan Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi global di sektor manufaktur, terutama industri kimia dasar," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 7 November.
Agus menjelaskan, keberadaan pabrik baru itu diharapkan semakin memperkuat sektor industri kimia, terutama petrokimia hulu yang menjadi tulang punggung bagi berbagai industri hilir, seperti farmasi, makanan dan minuman, elektronik hingga otomotif.
Menurut Agus, Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi lantaran kinerja sektor manufaktur terus menunjukkan tren positif di tengah tantangan global.
Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2025 tercatat sebesar 51,2 poin dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,5 poin dengan 22 subsektor mengalami ekspansif.
Pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas pada triwulan II-2025 juga mencapai 5,6 persen, sementara sektor industri kimia, farmasi dan tekstil tumbuh lebih tinggi sebesar 6,7 persen secara tahunan (yoy).
Selain itu, sektor industri manufaktur masih menjadi motor utama ekonomi nasional dengan realisasi investasi mencapai Rp366,6 triliun pada semester I-2025 atau sekitar 38,9 persen dari total investasi nasional.
Sementara dari sisi ekspor, sektor industri pengolahan nonmigas menyumbang 79,9 persen dari total ekspor Indonesia hingga Agustus 2025.
"Data tersebut menegaskan peran vital industri manufaktur, termasuk sektor kimia dasar, dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional," terang Agus.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, kata Agus, kebutuhan bahan kimia nasional pada 2024 mencapai lebih dari 53 juta ton per tahun, dengan 72 persen di antaranya berbasis migas dan batu bara.
Namun, kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut, sehingga impor petrokimia masih mendekati 11 miliar dolar AS per tahun dan meningkat sekitar 10 persen setiap tahunnya.
"Karena itu, pembangunan pabrik Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia dasar," jelas Agus.
Dengan nilai investasi hampir Rp60 triliun, proyek LINE menjadi salah satu investasi terbesar di Indonesia sekaligus menghadirkan fasilitas Nafta Cracker kedua di Tanah Air setelah lebih dari 30 tahun.