Bagikan:

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 9.000 hingga akhir tahun 2025.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyampaikan keyakinan tersebut didasari oleh tren positif di pasar modal dan kondisi ekonomi nasional yang terus membaik.

"Ya optimis dong, (IHSG level) 8.000 tercapai kan. Bagus kan? Harapannya karena laporan keuangan juga baik. Kondisi ekonomi baik. Tadi kan growth naik terus kan? Transaksi bagus. Retail bagus. Listed company juga kan bagus kan sejauh ini? Perkembangannya. Jadi harusnya kita optimis ya. Akhir tahun 9.000 Insya Allah," jelasnya kepada awak media, Senin, 3 November.

Lebih lanjut, Irvan menjelaskan bahwa BEI terus melakukan berbagai langkah untuk mendorong peningkatan aktivitas pasar, termasuk melalui penambahan produk baru.

"Kita lagi nunggu ETF Gold. Beberapa mekanisme perbaikan (perdagangan seperti), non-cancellation period. Mungkin lighthouse IPO, ada kan katanya ya? Tiga ya? Tahun ini. Insya Allah," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Iman Rachman menekankan fokus BEI bukan pada angka tertentu, melainkan pada penguatan fundamental pasar sebagai dasar utama pergerakan indeks.

"Kita terus saja berharap indeks kita akan terus naik, berapa pun angkanya,” ujarnya dalam acara konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) secara virtual, Rabu, 29 Oktober.

Ia menambahkan, pembahasan IHSG sebaiknya diarahkan pada upaya memperkuat fondasi pasar, bukan sekadar prediksi angka.

“Kemarin kita bicara terus terang 8.000 masih keniscayaan, dan ternyata bisa tercapai bahkan lebih cepat dari target. Artinya, kita tidak diskusi mengenai IHSG-nya, tapi upaya-upaya apa yang dilakukan yang berdampak pada IHSG. IHSG menurut saya adalah hasil,” jelasnya.

Iman juga menekankan, kinerja pasar saham tidak hanya ditentukan oleh tingginya aktivitas perdagangan, tetapi juga kualitas fundamental perusahaan tercatat.

“Tidak hanya bisa bicara, oh trading-nya ramai, tapi kalau fundamental perusahaan juga tidak bagus, ya tidak naik market cap-nya. Jadi banyak hal yang memengaruhi terkait dengan IHSG,” katanya.