Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, kinerja industri berorientasi ekspor terus berada pada level ekspansif alias baik selama satu tahun terakhir, yakni sejak November 2025 sampai Oktober 2025.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam Rilis IKI Oktober 2025 di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis, 30 Oktober.

"Nah, selama satu tahun terakhir sejak November 2024 sampai Oktober 2025, kami lihat kinerja industri selalu ekspansif. Kami lihat dari nilai IKI (indeks kepercayaan industri) di November 2024 52,95 dan Oktober ini 53,5. Jadi, trennya itu naik," kata Febri.

Sementara untuk kinerja industri yang berorientasi pasar domestik, kata Febri, nilai IKI-nya menurun sedikit, namun tetap berada di level ekspansif.

"IKI untuk industri berorientasi pasar domestik (pada) November 2024 nilainya 53,33, sedangkan Oktober 2025 turun sedikit menjadi 52,34. Meskipun turun pada Oktober ini, tapi tidak sampai turun di bawah 50. Artinya, masih ekspansif," ujar dia.

Akan tetapi, Febri tak menampik adanya kinerja penurunan industri RI selama periode tersebut, utamanya pada Maret hingga Juni 2025 lalu. 

Menurut dia, penurunan kinerja industri pada bulan itu dikarenakan adanya pengaruh dari pengumuman tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump.

"Ini kami menduga ada pengaruh dari pengumuman tarif resiprokal Trump. Jadi, agak menurun dari sini sampai ke sini, walaupun Trump itu mengumumkan pada April 2025," terang Febri.

Hal itu diperparah dengan banjir barang impor masuk ke Indonesia yang semakin menekan kinerja industri dalam negeri.

"Industri ada mengalami serangan banjir produk impor dan selama Mei industri juga menghadapi ketidakpastian dari global pasca-pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden Trump. (Sehingga) demand ekspor maupun domestik juga mengalami tekanan," jelas dia.

Puncak penurunan industri dalam negeri pun terjadi pada Juni 2025 lalu. Menurut Febri, pada periode ini mulai terjadi eskalasi perang fisik di Timur Tengah, yang menyebabkan pelemahan kinerja industri nasional.

"Kemudian, pada Juni 2025 mulai naiknya eskalasi perang fisik di Timur Tengah, ketika Iran menyerang Israel. Dan ini adalah periode-periode industri menghadapi tekanan banjir produk impor, menghadapi tekanan dari gejolak politik dan ekonomi di dunia internasional. Dan itu menekan kinerja industri," tutur Febri.

"Kami tahu perang global itu berdampak terhadap rantai pasok industri di dalam negeri, terutama pada sisi bahan baku. Pengaruh dari perang itu adalah soal pasokan juga harga bahan baku dan energi, itu dipengaruhi baik melalui tekanan nilai tukar ataupun juga dari sisi pengiriman," sambungnya.

Namun demikian, lanjutnya, kinerja industri dalam negeri bisa kembali bangkit dengan nilai IKI mencapai 52,16 pada Juli 2025.

"Kalau kami lihat setelah Juni, (pada) Juli kinerja industri mulai rebound dan IKI keseluruhan (baik) IKI ekspor dan IKI domestik mulai naik," pungkasnya.