Bagikan:

JAKARTA – Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi sorotan publik terutama terkait dengan beban keuangannya. Sejak resmi beroperasi Oktober 2023, proyek ini masih mencatatkan kerugian.

Proyek tersebut dijalankan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai perusahaan operator. KCIC merupakan perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memiliki 60 persen, dan perusahaan asal China melalui China Railway International Co. Ltd. (CRI) memegang 40 persen saham.

Komposisi pemegang saham PSBI terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08 persen.

Mengutip laporan keuangan 2024 audited dari situs resmi PT KAI, PSBI ternyata merugi hingga Rp4,19 triliun sepanjang tahun 2024. Pada paruh pertama 2025, PSBI kembali mencatatkan rugi sebesar Rp1,62 triliun, bedasarkan laporan keuangan 30 Juni 2025 (unaudited).

Menurut Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P. Sasmita, kondisi ini tergolong normal. Karena, masih dalam masa transisi dari konstruksi ke operasi komersial penuh.

“Kerugian yang dialami Whoosh saat ini bisa dikatakan masih dalam fase ramp-up period, yaitu masa transisi dari konstruksi ke operasi komersial penuh,” ujar Ronny kepada VOI, Kamis, 30 Oktober.

Sekadar informasi, fase ramp-up period merupakan periode awal ketika proyek besar seperti kereta cepat baru mulai beroperasi dan masih membangun basis penumpang.

Dalam tahap ini, beban biaya operasional, pemeliharaan, serta pembayaran utang masih jauh lebih besar dibandingkan pendapatan tiket.

Menurut Ronny, hampir semua proyek transportasi publik berskala besar di dunia melewati masa yang sama. Contohnya, Shinkansen di Jepang, hingga Train à Grande Vitesse (TGV) atau Kereta Berkecepatan Tinggi di Prancis.

“Sebenarnya wajar jika proyek infrastruktur besar seperti kereta cepat mengalami kerugian di tahap awal pengoperasian. Hampir semua proyek transportasi publik berskala besar di dunia, mulai dari Shinkansen di Jepang, TGV di Prancis, sampai KTX di Korea, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik impas,” ujarnya.

Namun, Ronny menekankan, persoalan yang dihadapi Whoosh ini bukan soal rugi di awal. Tetapi terletak pada jumlah utang yang terlalu besar.

“Inti dari perdebatan Whoosh belakangan bukan pada kerugian di awal, tapi nilai investasi Whoosh dan utang yang diambil untuk membiayainya terlalu besar,” jelasnya.

Selain itu, Ronny mengatakan masalah besar Whoosh juga terletak pada ketidakkonsistenan nilai investasi dan utang, karena berubah dari kesepakatan awal.

“Cenderung kurang konsisten dengan deal awal, angka berubah dan cenderung membesar. Itu masalahnya sebenarnya,” ucapnya.

Sekadar informasi, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau dikenal sebagai Whoosh menelan investasi jumbo hingga 7,2 miliar dolar AS.

Nilai investasi tersebut mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS dari target awal biaya proyek sebesar 6 miliar dolar AS.

Dari jumlah 1,2 miliar dolar AS tersebut 60 persen dibebankan kepada konsorsium Indonesia atau sekitar 720 juta dolar AS.

Sementara sisanya, 480 juta dolar AS akan dibebankan kepada konsorsium China.

Struktur pembiayaannya terdiri dari 25 persen melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) KAI senilai Rp3,2 triliun. Sedangkan, 75 persen sisanya bersumber dari pinjaman ke China Development Bank (CDB) sebesar 542,7 juta dolar AS.