Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp10 triliun untuk mencetak 400.000 hektare (ha) lahan sawah baru selama untuk tahun 2026. Langkah ini dilakukan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah menargetkan pencetakan sawah baru seluas 225.000 ha pada tahun ini dan 400.000 ha di tahun depan.

“Jadi insyaallah cetak sawah tahun depan kita upayakan 400.000 hektare, tahun ini 225.000 hektare. Dan insyaallah tahun berikutnya kita akan lanjutkan. (Anggaran) kurang lebih, itu hampir Rp10 triliun,” ujar Amran saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa, 21 Oktober.

Dari total 400.000 hektare yang akan dicetak pada tahun depan, sambung Amran, sebanyak 200.000 hektare masuk dalam pengembangan food estate yang tersebar di beberapa wilayah. Seperti Papua hingga Sumatera Selatan.

“Termasuk food estate di Papua, dengan Kalimantan Tengah, Selatan, dan Sumatera Selatan,” jelasnya.

Selain itu, Amran juga merespons terkait temuan tingginya harga beras di beberapa daerah yang masuk dalam zona III. Amran mengakui hal tersebut.

Karena itu, sambung Amran, pihaknya telah menerjunkan tim Kementerian Pertanian (Kementan) ke lapangan untuk memantau titik-titik daerah yang mengalami lonjakan harga.

“Kami sudah turunkan tim, berangkat. Hari ini berangkat tim ke titik-titik yang harga tinggi. Kami berangkatkan tim, langsung turun,” kata Amran

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan proyek infrastruktur, ketahanan pangan serta perumahan telah menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp276,1 triliun.

Rinciannya, anggaran sebesar Rp170,1 triliun terserap untuk infrastruktur, Rp81,2 triliun untuk ketahanan pangan serta Rp24,8 triliun untuk perumahan.

“Pembangunan infrastruktur di (tabel) sebelah paling kanan Rp170, 1 triliun. (Penyerapannya) 42,3 persen dari pagu (Rp402,4 triliun),” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN Kita edisi Oktober 2025, Selasa, 14 Oktober.

Suahasil mengatakan anggaran ketahanan pangan, serapannya baru mencapai Rp81,2 triliun atau 56,1 persen dari total pagu Rp144,6 triliun.

Angka tersebut diperuntukkan untuk cetak sawah dan intensifikasi lahan sebesar Rp3,4 triliun. Dalam artian, 31,3 persen dari pagu Rp10,9 triliun.

“Untuk cetak sawah dan intensifikasi lahan (serapan anggarannya) masih relatively rendah 31,3 persen dari pagu sebesar Rp10,9 triliun, jadi ini juga perlu kami lakukan percepatan,” katanya.