JAKARTA - Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) menyoroti kebocoran ekspor ore timah secara ilegal ke luar negeri hingga 2.000 ton per bulan.
Hal ini diungkapkan Ketua Umum AETI Harwendro Adityo Dewanto yang mengungkapkan jika informasi ini diperoleh langsung dari pembeli ore dari Malaysia.
"langsung dari pembelinya, dari Malaysia Smelting Company, di mana dia bilang ke saya, 'Pak, saya dapat suplai timah, ore timah dari Indonesia sebanyak 1.000-2.000 ton per bulan'," ucap Harwendro, Kamis, 16 Oktober.
Dia menjelaskan, permasalahan kebpcpran ore ini langsung dilaporkan kepada pemerintah untuk segera ditindaklanjuti.
Menurutnya, kebocoran ore ini dapat merugikan Indonesia karena tidak mendapatkan manfaat seperti Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), pajak serta royalti dari komoditas timah.
"Alhamdulillah pemerintah merespons dengan baik. Di tahun ini ada banyak sekali penangkapan para penyelundup timah ilegal ini yang dilakukan oleh pemerintah," jelas dia.
Asal tahu saja, sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintahan yang dipimpinnya untuk menegakkan hukum.
Hal itu yang membuatnya gencar melakukan pengejaran terhadap tambang dan perkebunan sawit liar.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat acara dialog "A Meeting of Minds" dengan Chairman Forbes Media, Steve Forbes di Forbes Global CEO Conference 2025 yang digelar di St. Regis Jakarta, Rabu, 15 Oktober.
BACA JUGA:
Presiden Prabowo Subianto juga mengatakan bahwa sudah ada 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung yang merugikan negara ratusan triliun sudah diamankan.
Selain tambang, menurut Presiden Prabowo Subianto, negara telah menguasai kembali perkebunan sawit ilegal melalui keputusan pengadilan.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menertibkan pengelolaan sumber daya alam yang melanggar aturan.