JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait harga elpiji 3 kg setelah disubsidi sebesar Rp12.750 per tabung.
Bahlil menilai Purbaya salah membaca data dari bawahannya di Kementerian Keuangan. Apalagi, lanjut dia, sebagai Menteri Keuangan yang baru, Purbaya masih melakukan sejumlah penyesuaian.
"Itu mungkin Menkeu-nya salah baca data itu. Biasalah kalau, ya mungkin butuh penyesuaian. Saya nggak boleh tanggapi sesuatu yang selalu ini ya," ujar Bahlil kepada awak media saat ditemui di Kantor BPH Migas, Kamis, 2 Oktober.
Menurutnya, saat ini Kementerian ESDM masih melakukan pematangan subsidi elpiji 3 kg untuk tahun 2026.
"Mungkin Menkeu-nya belum dikasih masukan oleh dirjennya dengan baik atau oleh timnya. Jadi mungkin Pak Menterinya, Menteri Keuangan ya, mungkin belum baca data kali itu ya," sambung Bahlil.
Untuk mematangkan rencana tersebut Bahlil mengaku menggandeng Badan Pusat Statistik untuk memanfaatkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) demi menyaring masyarakat yang berhak menggunakan elpiji subsidi 3 kg.
"BPS itu kan kerjasama dengan tim di ESDM," tandas Bahlil.
Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, harga dari sejumlah komoditas energi dan non-energi yang dikonsumsi masyarakat berbeda dengan aslinya.
Untuk gas elpiji ukuran 3 kg harga sebenarnya sebesar Rp42.750 per tabung, namun, dengan adanya subsidi sebesar Rp30.000 per tabung, masyarakat hanya membayar Rp12.750.
BACA JUGA:
"Pemerintah selama ini menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayar masyarakat melalui pemberian subsidi dan kompensasi baik energi dan non energi," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Selasa, 30 September.
Sementara untuk Pertalite, harga aslinya adalah Rp11.700 per liter, namun dijual kepada masyarakat dengan harga Rp10.000 per liter dan yang ditanggung APBN sebesar Rp1.700 per liter.
Adapun minyak tanah masih mendapatkan subsidi besar, yakni sebesar Rp8.650 per liter, dari harga keekonomian sebesar Rp11.150 per liter, sehingga membuat harga jual ke masyarakat hanya Rp2.500 per liter.