JAKARTA - Shell Indonesia membantah isu pelepasan kepemilikan atas bisnis SPBU merupakan imbas atas isu keterbatasan stok bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini.
Vice President Corporate Relations, Shell Indonesia, Susi Hutapea mengatakan, proses pengalihan kepemilikan SPBU Shell ke konsorsium Citadel-Sefas tetap berjalan sesuai rencana.
"Tidak terdapat dampak pada proses pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia. Semua pihak tetap berkomitmen pada kesepakatan tersebut," ujar Susi dalam keterangan kepada media, dikutip Senin, 29 September.
Sebelumnya pada bulan Mei yang lalu Sell mengumumkan jika PT Shell Indonesia, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Shell plc (Shell), telah menyetujui pengalihan kepemilikan bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia. Pihak pembeli akan menjadi perusahaan patungan baru (new joint venture) antara Citadel Pacific Limited dan Sefas Group.
Susi menegaskan pihaknya tetap berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan mengantisipasi hasil positif dalam proses pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia.
SEE ALSO:
"Pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia tunduk pada penerimaan persetujuan peraturan dan diharapkan selesai pada tahun 2026," tegas Susi.
Ia menambahkan, nantinya setelah rampung, merk Shell akan tetap berada di Indonesia melalui perjanjian lisensi merek, produk BBM akan dipasok melalui Shell dan pelanggan akan terus memiliki akses untuk menggunakan produk BBM berkualitas tinggi.
Untuk informasi, Citadel Pacific, pengelola baru SPBU Shell, merupakan perusahaan dengan portofolio terdiversifikasi di Asia Pasifik, termasuk sebagai pemegang lisensi merek Shell di Guam, Saipan, Republik Palau, Makau, dan Hong Kong. Sementara itu, mitra lokalnya, Sefas Group, dikenal sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia.