JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia, Sudaryono, mengingatkan jajaran direksi perusahaan untuk tidak melakukan korupsi serta mewaspadai praktik pencatutan nama pejabat dalam urusan tertentu.
Pernyataan itu disampaikannya dalam forum internal PT Pupuk Indonesia, menanggapi kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer.
"Dengan adanya kasus Pak Noel ini, itu kita dan saya tidak menganjurkan untuk kita mengolok-olok, tapi kita harus pegang dada dan elus dada kita sambil bagi yang muslim kita mengucapkan na'udzubillahiminzalik," ucapnya dikutip dari Instagram @sudaru_sudaryono, Selasa, 2 September.
"Ya Allah, lindungilah aku dari perbuatanmu supaya kita tidak tidak menyentuh, tidak berikut-ikut, dan bahkan tidak terbesit pikiran sedikitpun untuk melakukan tindak pidana yang namanya korupsi," lanjut dia.
Sudaryono mengungkapkan, selama menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian, ia menemukan sejumlah pihak yang mencatut namanya untuk kepentingan tertentu. Modusnya, kata dia, biasanya dilakukan dengan mengaku membawa arahan langsung dari dirinya ketika bertemu pejabat eselon di Kementerian Pertanian.
"Saya ingin cerita ada kasus, bukan kasus yang sudah mencuat. Saya ada beberapa contoh kisah nyata bahwa selama saya jadi Wakil Menteri, Wakil Menteri loh ya, itu ada orang yang memang mencatut nama kita. Jadi, dia ketemu dirjen saya, dia ketemu direktur saya itu mengatakan 'sesuai arahan Pak Wamen maka saya' gitu. Saya pastikan saya tidak ada agenda apapun dan saya yakin semua ini enggak ada," katanya.
Sudaryono yang juga Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia ini mengingatkan agar para pejabat dan staf tidak mudah terjebak oleh pencatutan semacam ini. Menurutnya, hal itu bisa mencoreng nama baik pribadi maupun lembaga.
"Yang mau ingin saya sampaikan di forum ini, siapapun itu mengatasnamakan diri kita harus dilaporkan. Jangan sampai hanya karena model foto entah di kawinan atau di mana kemudian jadi senjata gitu," tegasnya.
Dirinya mengingatkan, langkah pencegahan korupsi harus dimulai dari kesadaran pribadi masing-masing untuk tidak tergoda, sekaligus memperkuat budaya pelaporan terhadap praktik yang mencurigakan.
"Sekali lagi dalam rangka apa dalam rangka kita sudah pakai helm, pakai protektor begini, pakai macam-macam ini SIM, spionnya sudah kanan, kiri, depan, belakang kita celaka bukan karena diri kita sendiri tapi kita celaka karena orang lain yang sebelumnya tidak ada," pungkasnya.