Bagikan:

YOGYAKARTA – Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia Juli Budi Winantya menyampaikan bahwa ketidakpastian di pasar keuangan global masih tetap tinggi.

Ia menjelaskan meskipun terdapat perkembangan terbaru terkait penetapan tarif di sejumlah negara, dinamika global masih sangat fluktuatif sehingga memicu ketidakpastian dalam jangka pendek, ditambah lagi dengan berbagai risiko geopolitik yang turut memengaruhi pasar keuangan dunia.

"Aliran modal ke negara-negara berkembang ini masih berlanjut market masih berlanjut meskipun karena modal kualitas yang tinggi jumlahnya juga relatif lebih terbatas dan aliran modal ini terutama dalam bentuk obligasi, dalam bentuk bond ini," ujarnya dalam kegiatan kebijakan BI Jaga Stabilitas dan Dorong Pertumbuhan, Jum'at, 22 Agustus.

Selain itu, ia juga menyinggung perkembangan nilai tukar dolar AS yang sempat menguat namun kemudian kembali melemah. Hal ini terjadi sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Menurutnya perkembangan tarif global ini menimbulkan risiko pelemahan ekonomi dunia yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya sehingga Bank Indonesia telah melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara.

Ia menambahkan bahwa perkembangan kebijakan tarif global yang terjadi saat ini berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia dari yang diproyeksikan sebelumnya sebesar 3 persen.

Juli menjelaskan seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melemah, tekanan inflasi juga cenderung menurun.

Oleh sebab itu, Ia menyampaikan terdapat tren penurunan yang mencerminkan risiko pelemahan ekonomi yang semakin nyata, disertai dengan inflasi yang cenderung menurun, termasuk di Amerika.

Juli menjelaskan bahwa meskipun secara teori tarif dapat mendorong kenaikan inflasi, namun di sisi lain, tarif juga memperlambat pertumbuhan ekonomi.

"Interaksi dari pertumbuhan yang lebih lambat dan tekanan inflasi dari tarif ini dampaknya tetap menyebabkan inflasi di Amerika Serikat ini lebih rendah dan ini juga sama terjadi juga di daerah-daerah negara-negara yang lain, terutama karena tadi, karena perekonomiannya tidak sebaik yang kita perkirakan," ucapnya.