Bagikan:

JAKARTA - Ekonom Institute for Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menyoroti topik inflasi pada Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2026. Dia bilang inflasi secara umum memang sudah terkendali.

Namun, sambung Eko, secara lebih spesifik pemerintah perlu mewaspadai sumber inflasi. Terutama yang berasal dari pangan.

“Untuk 2026, kami secara umum sih tidak terlalu mengkhawatirkan. Realisasi inflasi kita itu ya sekitar 2,5 persen seperti yang ada di dalam RABBN 2026 yang dipidatokan oleh Pak Prabowo kemarin. Hanya saja kalau kita bedah dalam konteks sumber dari inflasinya. Kami tetap mengkhawatirkan ada inflasi pangan,” tuturnya dalam diskusi virtual, Minggu, 17 Agustus.

Indef, sambung Eko, melihat bahwa inflasi pangan ini perlu diwaspadai. Meskipun, kata dia, ada beberapa pencapaian dalam bidang pangan yang telah dilaporkan pemerintah. Seperti, cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,2 juta ton, serta berbagai upaya-upaya yang diarahkan untuk swasembada pangan.

“Tapi poinnya adalah harus dipastikan ya bahwa program unggulan swasembada pangan itu, mampu untuk menekan inflasi,” katanya.

“Jadi jangan sampai stoknya banyak, terus produksinya meningkat, disampaikan seperti itu, tetapi harga juga naik. Nah nanti yang terjadi adalah masyarakat bingung,” sambungnya.

Eko menilai jika hal itu yang terjadi, masyarakat nantinya akan menafikan data yang disampaikan pemerintah. Karena itu, menurut dia, pemerintah perlu memastikan tidak adanya kontradiksi pada data dengan realisasi yang terjadi.

“Kalau itu yang terjadi maka semua akan wait and see gitu,” ucapnya.

Saat ini, kata Eko, harga beras jadi salah satu stimulan inflasi sehingga tren inflasi kita naik ya 2,37 pada bulan Juli kemarin. Dia pun berharap bisa terkendali ke depannya.

Lebih lanjut, Eko bilang jika inflasi tak terkendali maka pemerintah akan sulit merealisasikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Mudah-mudahan kita berharap bisa terkendali ke depannya, karena kalau harga pangan tidak terkendali, sebetulnya akan sulit kita merealisasikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, karena sudah tergerus oleh inflasi tersebut, dalam inflasi pangan yang benar-benar komponennya besar sekali di dalam perhitungan inflasi,” katanya.