Bagikan:

JAKARTA - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Sudaryono buka suara terkait dengan rencana Presiden Prabowo Subianto menghapus tantiem untuk direksi maupun komisaris BUMN.

Sekadar informasi, Sudaryono sendiri diangkat sebagai Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia pada pertengahan Juni 2025.

Sudaryono bilang pihaknya sepakat dengan Prabowo. Menurut dia, pemberian tantiem sebenarnya tidak perlu.

“Setuju, setuju, tantiem tidak perlu, kita ini pengabdian,” tuturnya ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 15 Agustus.

Dia mengatakan jika komisaris dan direksi BUMN keberatan dengan rencana penghapusan tantiem bisa mengundurkan diri.

“Kalau tidak mau, ya berhenti,” ucapnya.

Sudaryono juga mengaku tidak keberatan dengan rencana Prabowo. Dia bilang, dirinya menjabat sebagai komisaris utama di PT Pupuk Indonesia bagian dari pengabdian.

“Tidak ada (keberatan). Kita ini mengabdi, kalau mau kaya tidak usah jadi pejabat, kita kaya jadi pengusaha,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan memberikan tantiem kepada direksi maupun komisaris BUMN yang perusahaannya merugi. Dia bilang jika direksi dan komisaris keberatan dengan kebijakan tersebut bisa segera mundur.

Lebih lanjut, Prabowo bilang masih banyak anak muda yang dinilai mampu menggantikan posisi tersebut.

“Jadi direksi dan komisaris kalau keberatan, tidak bersedia tidak menerima Tantiem, berhenti. Banyak anak-anak muda yang mampu yang siap menggantikan mereka,” ucapnya dalam penyampaian RAPBN 2026 dan Nota Keuangan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat, 15 Agustus.

Dia bilang keuntungan yang menjadi dasar pemberian tantiem harus benar-benar riil, bukan hasil rekayasa. Karena itu, perusahaan yang merugi tidak perlu memberikan tantiem untuk direksi maupun komisaris.

“Saya juga telah perintahkan ke Danantara, direksi pun tidak perlu tantiem kalau rugi. Dan untungnya harus untung benaran jangan untung akal akalan,” tuturnya.

Prabowo mengatakan ada komisaris yang hanya rapat sebulan sekali, namun menerima tantiem hingga Rp40 miliar per tahun.

Karena itu, dia pun meminta agar pemberian tantiem dicabut.

“Saya hilangkan tantiem. Saya pun tidak mengerti arti tantiem itu. Itu akal-akalan mereka saja. Dia memilih istilah asing supaya kita tidak mengerti apa itu tantiem,” ujarnya.