JAKARTA - PT PGN (Persero) Tbk (PGAS) mengungkapkan hingga saat ini terdapat tiga tantangan yang dihadapi pelaku industri gas bumi. Ketiga tantangan tersebut antara lain pasokan gas, infrastruktur, hingga aspek harga.
Corporate Secretary Fajriyah Usman menjelaskan, sejatinya PGN bukanlah perusahaan yang bergerak di sisi hulu yang bisa memproduksi gas. Untukl itu, lanjut dia, pasokan gas milik PGN sangat bergantung pada produksi dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di hulu. Untuk itu, jika KKKS pemasok mengalami tantangan seperti natural decline, pasokan gas ke PGN juga akan menurun.
"Misalnya dari sisi hulu terjadi natural decline, kemudian ada rencana-rencana operasional di hulu juga yang terganggu, pastinya juga akan memengaruhi pasokan gas yang ada," ujarnya kepada awak media saat ditemyu di Jakarta, Kamis, 14 Agustus.
Apalagi, sambung Fajriyah, tidak semua produksi gas dalam negeri dikelola oleh PGN. Tak hanya pasokan, Fajriyah menambahkan, PGN juga menghadapi kendala lain seperti permintaan dari pelanggan yg terus meningkat. Akibatnya, akan ada mismatch antara supply dan demand gas bumi.
"Begitu juga apabila terjadi di demand side terjadi peningkatan dari yang sebelumnya sudah ditargetkan, pasti akan terjadi kebutuhan yang meningkat dan mismatch antara supply dan demand," jelas Fajriyah.
BACA JUGA:
Tantangan terakhir, Fajriyah bilang, anak usaha Pertamina ini masih terbentur pada infrastruktur penyaluran gas bumi yang baru tersambung utuh dari Sumatra hingga Jawa.
Padahal potensi sumber daya gas bumi belakangan ini paling banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian timur. Sehingga, Fajriyah menyebut ketersediaan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi PGN.
"Memang saat ini yang sudah cukup tersambung itu adalah dari Sumatra sampai dengan Jawa dan sebagian besar memang yang dikelola oleh PT PGN. Infrastruktur sampai saat ini kita masih dalam progres untuk memperluas jaringan-jaringan gas kita ke daerah lain," tandas dia.