Bagikan:

JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami akselerasi yang signifikan pada kuartal II tahun 2025, bahkan melampaui ekspektasi pasar.

Josua menyampaikan meski pemulihan ekonomi Indonesia berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan, namun risiko global masih membayangi pada paruh kedua 2025.

"Pemangkasan tarif resiprokal AS terhadap barang Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen dapat meredam dampak negatif dari Trade War jilid dua, namun secara keseluruhan dampaknya terhadap ekonomi nasional tetap berisiko negatif," ujarnya kepada VOI, Selasa, 5 Agustus.

Menurutnya pemulihan investasi diperkirakan akan berlanjut seiring kepastian kebijakan perdagangan dan meredanya risiko ekspor, meskipun lonjakan impor tetap menjadi perhatian.

Di sisi lain, ia menambahkan dengan tarif impor AS terhadap barang modal menjadi 0 persen, maka barang modal asal AS kini lebih mudah diakses dan dapat mendorong investasi sektor swasta.

"Sebagai tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia, Amerika Serikat memiliki peran penting dalam kinerja perdagangan nasional," tuturnya.

Menurutnya penurunan tarif dapat mendukung kinerja ekspor, namun ketegangan perdagangan global tetap berpotensi melemahkan permintaan dan, kebijakan impor 0 persen dapat mendorong permintaan Indonesia terhadap barang dari AS.

Ia menambahkan ekspansi ekspor China ke kawasan Afrika dan ASEAN terus berkembang, yang turut mendorong peningkatan volume impor Indonesia dari negara tersebut.

Menurutnya kebijakan fiskal dan moneter yang tetap akomodatif, termasuk stimulus ekonomi yang berlanjut, akan menjadi instrumen penting dalam menghadapi tekanan global dan menjaga daya beli domestik.

"Strategi ini menjadi krusial untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada semester II 2025," tuturnya.

Secara keseluruhan, Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 akan berada pada kisaran 4,7 persen hingga 5,1 persen, sedikit menurun dibandingkan 5,03 persen pada 2024.

"Kebutuhan untuk menjaga momentum pertumbuhan ini juga membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-rate) hingga 50 basis poin pada sisa tahun 2025, terutama jika ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga acuan The Fed semakin menguat," tegasnya.

Untuk informasi, pada kuartal II 2025 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), jauh di atas proyeksi konsensus yang memperkirakan pertumbuhan di bawah 5 persen. Capaian ini juga menunjukkan perbaikan dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen.

Meski demikian secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester I 2025 tercatat sebesar 4,99 persen (yoy), atau sedikit di bawah ambang psikologis 5 persen.

Dari sisi pengeluaran, akselerasi pertumbuhan PDB pada kuartal II 2025 ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan lonjakan tajam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Adapun, konsumsi rumah tangga mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,97 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dari 4,95 persen (yoy) di kuartal sebelumnya, seiring meningkatnya mobilitas dan belanja masyarakat selama periode libur nasional, termasuk Idulfitri.

Sementara itu, PMTB tumbuh pesat dari 2,12 persen (yoy) menjadi 6,99 persen (yoy), didorong oleh belanja modal pemerintah yang lebih tinggi serta peningkatan impor barang modal.

Secara keseluruhan, kontribusi konsumsi rumah tangga dan PMTB terhadap pertumbuhan mencapai 4,70 poin persentase (ppt), meningkat signifikan dibandingkan kontribusi 3,29 ppt pada kuartal I 2025. Sebaliknya, kontribusi ekspor neto menurun dari 0,71 ppt menjadi hanya 0,22 ppt di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Dari sisi sektoral, sektor manufaktur dan konstruksi menjadi penggerak utama pertumbuhan yang lebih tinggi di kuartal II 2025, dimana kontribusi sektor manufaktur naik dari 0,93 ppt menjadi 1,13 ppt, sementara konstruksi meningkat dari 0,22 ppt menjadi 0,47 ppt.

Selanjutnya, sektor perdagangan serta informasi dan komunikasi juga tetap memberikan kontribusi yang tinggi, namun tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Adapun secara tahunan, sektor manufaktur tumbuh lebih kuat dari 4,55 persen (yoy) menjadi 5,68 persen (yoy), dan sektor konstruksi dari 2,18 persen (yoy) menjadi 4,98 persen (yoy).