JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Juni 2025 kembali mencatatkan surplus sebesar 4,10 miliar dolar AS atau lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 4,30 miliar dolar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengungkapkan surplus neraca perdagangan pada Juni 2025 terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan nilai impor.
Adapun kinerja nilai ekspor pada Juni 2025 mencapai 23,44 miliar dolar AS, atau naik 11,29 persen secara year on year (yoy), namun turun secara bulanan sebesar 4,75 persen month to month (mtm).
Sementara itu, kinerja nilai impor pada Juni 2025 mencapai US$ 19,33 miliar dolar as, atau naik 4,28 persen (yoy), namun turun 4,83 persen (mtm).
"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 62 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020," ujarnya dalam konferensi pers, Jumat, 1 Agustus
Dia mengungkapkan, surplus pada Juni 2025 ditopang pada komoditas non minyak dan gas (migas) sebesar 5,22 miliar dolar AS.
Meski demikian, komoditas ini mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang mencapai 5,83 miliar dolar AS.
“Dengan komoditas penyumbang surplus utama adalah lemak hewani nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72)," jelasnya.
Sementara itu, Pudji menyampaikan komoditas migas masih tercatat mengalami defisit 1,11 miliar dolar AS, meski defisitnya lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 1,53 miliar dolar AS.
Dia menambahkan, komoditas penyumbang defisit pada migas adalah minyak mentah dan hasil minyak.
BACA JUGA:
Secara kumulatif atau Januari hingga Juni 2025, kinerja neraca perdagangan mencapai 19,48 miliar dolar as, atau meningkat 3,90 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Selain itu, nilai ekspor non migas mencapai 28,31 miliar dolar as, atau naik 2,63 miliar dolar as, sedangkan nilai ekspor migas terkontraksi 8,83 miliar dolar AS, meski lebih rendah dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang mencapai kontraksi 10,11 miliar dolar AS.