Bagikan:

JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, fenomena rombongan jarang beli alias 'Rojali' sudah terjadi sejak pandemi COVID-19.

Pasalnya, kata Bhima, setelah pandemi COVID-19, jumlah masyarakat kelas menengah turun.

"Fenomena 'Rojali', ya, orang-orang cuman belanja makanan, nongkrong tanpa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang ada di pusat perbelanjaan seperti mal. Ini sebenarnya fenomena sudah cukup lama, ya, salah satunya memang pasca-COVID-19 banyak kelas menengah itu semakin menurun jumlahnya," ucap Bhima kepada VOI, Kamis, 31 Juli.

"Semakin terhimpit oleh biaya hidup, terutama di inflasi bahan pangan, perumahan juga terkait dengan suku bunga tinggi dan mereka terjebak pada cicilan utang," sambungnya.

Selain itu, Bhima memandang, saat ini jumlah pendapatan kelas menengah cenderung menurun secara disposable income.

Artinya, kata dia, masyarakat kelas menengah lebih memilih menghabiskan uangnya untuk rekreasi atau sekadar melakukan healing. 

"Sementara mal ini, kan, banyak menyediakan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan tersier, misalnya barang-barang mewah, tas-tas mewah. Mereka fokus dulu, nih, ke kebutuhan yang sifatnya pokok. Jadi, ke mal itu hanya sekadar untuk cuci mata atau refreshing," terang dia.

Bhima menambahkan, saat ini juga terjadi perubahan tren berbelanja di toko daring alias online. Menurut dia, masyarakat kelas menengah lebih memilih belanja online didorong dengan pemberian diskon hingga gratis ongkos kirim (ongkir).

"Ada juga sebagian alasan lainnya karena mereka membeli beberapa barang sekunder maupun tersier itu di toko online dengan diskon ongkos kirim dan promo-promo yang tidak ditawarkan oleh mal misalnya, itu yang berubah perilaku konsumen," tutur Bhima.

Lebih lanjut, Bhima menyarankan, agar pengelola pusat perbelanjaan bisa melakukan pergeseran dari semula menyediakan gerai-gerai baju hingga kebutuhan sekunder menjadi pusat makanan minuman dan rekreasi keluarga.

"Itu sekarang diminati. Kami lihat beberapa mal lama yang mengubah konsep itu mampu bertahan, ya, sehingga pengeluaran konsumen untuk rekreasinya tetap menopang pendapatan pusat perbelanjaan," pungkasnya.