Bagikan:

JAKARTA - Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita mengatakan, euforia setelah pandemi COVID-19 turut menjadi penyebab maraknya rombongan jarang beli alias 'Rojali'.

Euforia dimaksud adalah saat masyarakat ingin lebih banyak jalan-jalan setelah lama menerapkan pembatasan mobilitas saat pandemi.

Akibatnya, daya beli yang diharapkan tumbuh saat momen tertentu belum bisa tercapai.

"Waktu kemarin Lebaran (daya beli) diharapkan tumbuh. Ternyata memang kami itu pada euforia setelah COVID-19. Jadi, yang tumbuh itu sebenarnya jalan-nya, wisata-nya," ujar Reni menjawab pertanyaan VOI saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu, 30 Juli.

"Atau kalau ke mal, bukannya belanja di mal, tapi kebanyakan itu hanya makan. Dua bulan terakhir seperti itu (Rojali)," sambungnya.

Sehingga usai momen Lebaran dan tahun ajaran baru, Reni berharap, fenomena Rojali bisa berkurang saat Natal dan tahun baru (Nataru) 2025/2026.

Akan tetapi, sebelum memasuki momen akhir tahun tersebut, Ditjen IKMA melakukan antisipasi dengan mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) berjualan secara daring.

Menurut dia, berjualan secara live di e-commerce TikTok Shop maupun Shopee merupakan cara ampuh saat ini.

"Kata kunci kami, sih, sebenarnya untuk di marketplace, nih. Kami harus juga saring, kemudian juga kami terus genjot pelaku-pelaku (industri) kami (untuk) live shopping, dong, live TikTok. Kalau bahasa kami, sih, mencekokkan," pungkasnya.