JAKARTA - Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita menuturkan, fenomena rombongan jarang beli alias 'Rojali' sudah terjadi selama dua bulan terakhir.
Menurut dia, masyarakat yang berkunjung ke pusat perbelanjaan lebih memilih makan ketimbang membeli barang.
"Kalau ke mal bukannya belanja di mal, kebanyakan itu hanya makan. Itu, kan, memang dua bulan terakhir seperti itu (fenomena Rojali)," ucap Reni menjawab pertanyaan VOI saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu, 30 Juli.
Reni menilai, fenomena tersebut juga disebabkan karena penurunan daya beli masyarakat yang masih terjadi sampai saat ini.
Pasalnya, kata dia, ada laporan dari Industri Kecil Menengah (IKM) yang juga mengalami penurunan bahkan sampai membatalkan permintaan.
"Termasuk di IKM juga, kan, ada penurunan order. Namun, betul itu (namanya) lesu permintaan, pameran juga lesu," katanya.
Untuk mengatasi fenomena tersebut, kata Reni, pihaknya terus mendorong pelaku industri untuk bisa menggaungkan produk-produk dalam negeri di e-commerce.
Selain itu, Reni menyebut, pihaknya juga terus mengenalkan produk-produk dalam negeri, salah satunya batik.
BACA JUGA:
Dengan demikian, lanjut dia, diharapkan daya beli masyarakat bisa meningkat pada akhir tahun nanti.
"Kata kunci kami, sih, sebenarnya untuk di marketplace, nih. Kami harus juga saring, kemudian juga kami terus genjot pelaku-pelaku (industri) kami (untuk) live shopping, dong, live TikTok. Kalau bahasa kami, sih, mencekokkan," tutur Reni.
"Nah itu saja, sih, sebenarnya yang kami isi supaya menggerakkan kembalilah yang katanya sekarang lesu," pungkasnya.
Adapun fenomena 'rojali' identik dengan orang-orang yang kerap datang ke toko, gerai atau mall, tetapi hanya melihat-lihat barang dan tidak melakukan transaksi pembelian.