JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), justru membuka peluang baru bagi sektor pertanian nasional.
Terutama untuk produk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Saat ini, tarif impor produk RI berada di angka 19 persen, lebih rendah dibanding Malaysia yang dikenakan tarif 24 persen.
"Tetapi, kita bersyukur, karena tarif dari 34 (persen) menjadi 19 (persen). Kalau tidak salah, Malaysia berapa? 24 persen, ya? Artinya apa? ada celah di sana untuk pertanian. Ada celah di sana, yaitu CPO," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 17 Juli.
"Pesaing kita cuma Malaysia. Iya, kan? Iya, betul. Artinya apa? Kita bisa menambah juga, ini menjadi peluang emas bagi pertanian," lanjut Amran.
Terkait stagnasi produksi CPO nasional yang berada di angka sekitar 50 juta ton dalam lima tahun terakhir, Amran menjelaskan bahwa stagnasi itu disebabkan sebagian pasokan dialihkan untuk biofuel.
Namun ia memastikan bahwa produksi akan meningkat melalui program peremajaan (replanting) kelapa sawit.
"CPO kita nomor satu dunia. Memang stagnan karena sebagian dialihkan ke biofuel. Tapi kita sudah mulai replanting sekarang. Pasti produksi naik," ucapnya.
Saat ditanya mengenai target luas lahan replanting hingga 2029, Amran belum memberikan angka pasti. "Doakan saja. Kita sudah mulai sekarang," ujarnya singkat.
Meski Amran enggan menyebut proyeksi volume produksi mendatang secara spesifik, Mentan yakin bahwa Indonesia akan tetap unggul dalam pasar CPO global.
"CPO kita pasti bersaing. Menang kalau dibandingkan dengan negara lainnya,” pungkasnya.
BACA JUGA:
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan, tarif impor senilai 19 persen akan diberlakukan terhadap produk-produk Indonesia yang masuk ke AS.
Sementara ekspor dari Amerika Serikat ke Indonesia tidak akan dikenakan pajak. Keputusan ini berdasarkan hasil negosiasi langsung yang dilakukannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.