Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan industri minyak atsiri yang memiliki potensi besar di Indonesia. Pasalnya, dari 97 jenis tanaman atsiri yang dikenal di dunia, sekitar 40 jenis tumbuh subur di Tanah Air.

Inspektur Jenderal Kemenperin M. Rum menyampaikan, setidaknya ada 25 jenis tanaman atsiri yang telah dibudidayakan secara komersial, seperti nilam, sereh wangi, cengkeh, pala hingga kenanga. 

"Dengan dukungan kondisi agroklimat dan warisan budaya kuat, kami memiliki fondasi kokoh untuk membangun industri atsiri berdaya saing tinggi," ujar dia seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 10 Juli.

 Rum menjelaskan, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai 259,54 juta dolar AS atau sekitar Rp4,21 miliar sepanjang 2024. Minyak nilam menjadi komoditas utama yang menyumbang sekitar 54 persen atau senilai 141,32 juta dolar AS. Produk atsiri lain yang turut menopang ekspor, antara lain minyak cengkeh, pala, cendana dan sereh wangi. 

Secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-8 eksportir minyak atsiri dunia dengan kontribusi sebesar 4,12 persen terhadap pasar global. Hanya saja, sebagian besar produk yang diekspor masih berupa bahan baku mentah. 

"Oleh karena itu, pentingnya penguatan hilirisasi sebagai strategi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri dalam negeri," ucapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menuturkan, tren global saat ini menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk berbasis bahan alami dan berkelanjutan. 

Menurut dia, industri kosmetik alami, aromaterapi, pangan, hingga health and wellness menjadi pasar potensial yang terus tumbuh, dengan nilai pasar global meningkat 10 persen sepanjang 2024. 

"Komoditas seperti nilam dan cengkeh dari Indonesia telah menjadi bagian penting dalam industri parfum dan gaya hidup sehat dunia," tuturnya.