Bagikan:

JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa ketidakpastian seputar kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memberikan dampak yang menghambat proyeksi aliran modal masuk ke Indonesia pada tahun 2025.

Ia menyampaikan meskipun ketegangan perang dagang global saat ini telah mereda, namun potensi ketidakpastian di pasar keuangan global masih tetap ada, terutama akibat pendekatan proteksionis Presiden Trump.

"Pendekatan proteksionisnya dapat memperburuk tekanan inflasi di AS, menciptakan dilema kebijakan bagi The Fed, terutama dalam menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi AS," jelasnya kepada VOI, Selasa, 10 Juni.

Di sisi lain, ia menyampaikan stagnasi ekonomi China yang berkepanjangan juga berkontribusi pada meningkatnya preferensi investor terhadap aset-aset safe-haven, sehingga kondisi ini menyebabkan minat terhadap aset berisiko, termasuk di negara berkembang, cenderung menurun.

Josua menyampaikan untuk menghadapi tantangan ini, seperti kebijakan baru Indonesia mengenai Pendapatan Valuta Asing dari Ekspor Barang Sumber Daya Alam (DHE SDA) diperkirakan akan dapat membantu mengurangi dampak dari aliran modal masuk yang melambat, didukung oleh surplus perdagangan yang terus berlanjut.

"Oleh karena itu, kami merevisi perkiraan defisit neraca berjalan atau Current Account Deficit (CAD) tahun 2025 dari 1,18 persen PDB menjadi 0,87 persen PDB," tuturnya.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan memanfaatkan cadangan devisa guna menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurutnya intervensi ini dapat menyebabkan penurunan bertahap pada tingkat cadangan devisa. Namun, fundamental makroekonomi Indonesia yang cukup solid serta ruang pelonggaran suku bunga BI yang lebih luas pada 2025 diyakini masih mampu menarik aliran modal selektif, khususnya ke instrumen obligasi pemerintah (SBN).

Ia memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan berada di kisaran 153 miliar dolar AS hingga 157 miliar dolar AS pada akhir 2025 dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar 155,72 miliar dolar AS.

Selain itu, Josua menyampaikan pergerakan Rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.100 per dolar AS – Rp16.400 per dolar AS pada akhir periode 2024 sebesar Rp16.102 per dolar AS.