Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu, 4 Juni diperkirakan akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 3 Juni, Kurs rupiah spot di tutup turun 0,34 persen ke level Rp16.308 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup menguat 0,05 persen ke level harga Rp16.288 per dolar AS.

 Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan Treasury AS dan dolar terpukul oleh kekhawatiran atas tingkat utang AS yang meningkat, sementara fokus juga tertuju pada RUU pemotongan pajak kontroversial yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump, yang baru-baru ini mengalami kemajuan di Kongres. 

Selain itu, Iran menyatakan kesiapannya untuk menolak usulan Amerika Serikat dalam upaya mengakhiri sengketa nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun lantaran usulan tersebut tidak mengakomodasi kepentingan Teheran dan tidak mencerminkan pelunakan sikap Washington terhadap program pengayaan uranium.

"Potensi kegagalan dalam perundingan AS-Iran juga dapat menjadi pertanda buruk bagi geopolitik di Timur Tengah, mengingat laporan pada bulan Mei mengatakan Israel berencana untuk menyerang Iran jika perundingan dengan AS gagal," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Rabu, 4 Juni.

Ibrahim menambahkan di asia, data PMI Caixin menunjukkan kontraksi yang tak terduga dan dalam di sektor manufaktur Tiongkok pada bulan Mei. Angka tersebut muncul beberapa hari setelah data PMI pemerintah menunjukkan tren serupa. 

Menurutnya angka PMI semakin menggarisbawahi dampak perang dagang AS terhadap ekonomi Tiongkok, dan memicu kekhawatiran bahwa permintaan komoditas di negara tersebut akan melemah.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan Indonesia dilanda deflasi sebesar 0,37 persen pada Mei 2025 secara bulanan (month to month/mtm) dan menjadi deflasi ketiga sepanjang tahun setelah Januari (-0,76 persen) dan Februari (-0,48 persen). 

Menurutnya deflasi ini menjadi alarm bahaya bagi ekonomi Indonesia dan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 diproyeksi kembali tidak sampai 5 persen sehingga hal ini sudah lampu kuning, sebagai ada gejala pertumbuhan ekonomi melambat di kuartal II-2025. 

Ia menyampaikan deflasi berkepanjangan menandakan sebagian besar masyarakat menahan belanja, hal ini membuat ekonomi ke depan lebih menantang. 

"Artinya penduduk besar, tapi sebagian besar masyarakat tahan belanja. Konsumsi rumah tangga yang lambat artinya ekonomi ke depan lebih menantang," tuturnya. 

Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 mencapai 0,16 miliar dolar AS atau 160 juta dolar AS dan kinerja surplus ini tercatat menipis bila dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan surplus 4,33 miliar dolar AS. 

Adapun, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Disisi lain, surplus neraca perdagangan ini lebih ditopang oleh komoditas non minyak dan gas (migas) mencapai 1,51 miliar dolar AS, namun lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 6 miliar dolar AS. 

Penyumbang utama surplus neraca perdagangan dari komoditas non migas adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja. 

Selain itu, neraca perdagangan dari komoditas migas mencatatkan defisit 1,35 miliar dolar AS, dengan defisit yang menurun dari bulan sebelumnya yang mencapai defisit 1,67 miliar dolar AS. 

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 4 Juni 2025 dalam rentang harga Rp16.300 - Rp16.370 per dolar AS.