JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi pernyataan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri yang mengungkapkan jika pengalihan impor BBM dari Amerika Serikat memiliki beragam risiko.
Dikatakan Bahlil, sejatinya Indonesia selama ini telah melakukan impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Negeri Paman Sam hingga 59 persen dan tid ada permasalahan berarti.
Untuk itu ia menegaskan dirinya tidak menerima berbagai alasan untuk tidak melakukan impor BBM dari Amerika Serikat.
"Enggak ada alasan! LPG kita juga kan kita impor dari Amerika, 59 persen dari total LPG kita konsumsi nasional, dari total impor LPG nasional, 50 persen lebih itu kan dari Amerika. Gak ada soal," ujarnya kepada awak media yang dikutip Sabtu, 24 Mei.
Asal tahu saja, sebelumnya Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan, terdapat beberapa risiko yang harus dihadapi Pertamina jika nantinya kegiatan impor BBM dan elpiji dialihkan kepada AS, antara lain dari sisi jarak dan waktu pengiriman dari Amerika Serikat yang jauh lebih panjang yaitu sekitar 40 hari dibandingkan sumber pasokan dari Timur Tengah ataupun negara Asia.
"Apabila terjadi kendala faktor cuaca seperti badai ataupun kabut maka akan berdampak langsung pada ketahanan stok nasional," sambung Simon.
BACA JUGA:
Oleh karena itu, kata dia, saat ini Pertamina sedang melakukan kajian komprehensif mencakup aspek teknis, komersial, dan risiko operasional untuk memastikan bahwa skenario peningkatan suplai dari Amerika Serikat dapat dilakukan secara efektif.
Untuk mengatasi masalah tersebut Simon juga meminta dukungan berupa payung hukum baik melalui Peraturan Presiden maupun Peraturan Menteri sebagai dasar pelaksanaan kerjasama suplai energi bagi Pertamina dari AS.
"Komitmen kerjasama secara G2G antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat akan memberikan kepastian politik dan regulasi dan selanjutnya dapat diturunkan ke dalam bentuk kerjasama bisnis to bisnis di level teknis dan operasional antar perusahaan," tandas Simon.