Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat, 16 Mei diperkirakan akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Kamis, 15 Mei, kurs rupiah spot ditutup naik 0,20 persen ke level Rp16.529 per dolar AS.

Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup menguat 0,19 persen ke level harga Rp16.535 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan kegembiraan atas kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok juga tampak mereda, mengingat negara-negara tersebut secara drastis mengurangi tarif perdagangan mereka terhadap satu sama lain.

"Pasar kini menantikan penarikan tarif lebih lanjut antara raksasa ekonomi, sementara pembicaraan perdagangan AS dengan negara lain juga menjadi fokus untuk isyarat yang lebih positif," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Jumat, 16 Mei.

Adapun fokus sekarang tertuju pada serangkaian pembacaan ekonomi AS yang akan datang, serta pidato Powell dari The Fed, untuk isyarat lebih lanjut tentang ekonomi terbesar di dunia.

Ibrahim menambahkan, data inflasi indeks harga produsen untuk bulan April muncul hanya beberapa hari setelah pembacaan indeks harga konsumen yang lebih rendah dari perkiraan.

Menurutnya, penurunan inflasi yang berkelanjutan diperkirakan akan meningkatkan taruhan pada pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan Perekonomian Indonesia nampak tengah mengalami kelesuan.

Ini bisa dilihat dari berbagai data yang ada, seperti beberapa di antaranya ialah indeks penjualan riil (IPR) dan indeks keyakinan konsumen (IKK).

Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Indeks Penjualan Riil (IPR) hanya tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada Maret 2025.

Angka ini lebih rendah dari Maret 2024 yang mencapai 9,3 persen.

Sementara itu, IPR pada April 2025 diprediksi hanya 231,1 atau terkontraksi 2,2 persen secara tahunan.

Sedangkan IKK di Maret 2025 berada di level 121,1, menunjukkan penurunan ketimbang bulan sebelumnya, yang berada di level 126,4. Untuk April 2025, IKK menunjukkan sedikit penguatan ke level 121,7.

Ibrahim menyampaikan maka dari itu, tak heran kalau tingkat konsumsi maupun antusiasme masyarakat Indonesia secara ekonomi pada momen lebaran tahun ini tak sebesar Lebaran di tahun-tahun sebelumnya.

"Kondisi itu, juga tak lepas dari realita tidak adanya signifikansi peningkatan pendapatan masyarakat," jelasnya.

Menurutnya, sebagai langkah antisipasi agar penurunan tingkat konsumsi tidak tambah parah, perlunya kebijakan intervensi seperti bantuan sosial (bansos) yang tepat sasaran dibagikan kepada masyarakat berpendapatan rendah.

Sedangkan bagi kelas menengah, penciptaan industri baru menjadi solusinya.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 16 Mei 2025 dalam rentang harga Rp16.470-Rp16.530 per dolar AS.