JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 8 Mei.
Ariston mengungkapkan pasar kemungkinan menanggapi hasil rapat The Fed dinihari tadi dimana The Fed memberi sinyal tidak akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
"Sinyal ini cenderung mendorong penguatan dolar AS," ujarnya kepada VOI, Jumat, 2 Mei.
Ariston menyampaikan sikap The Fed ini didasari oleh ketidakpastian di perekonomian AS akibat kebijakan kenaikan tarif.
BACA JUGA:
Menurutnya The Fed ingin memastikan seberapa besar dampak dari kebijakan tarif Trump ini ke perekonomian AS yang dicurigai akan mendorong kenaikan harga atau inflasi atau bisa juga menurunkan daya beli.
Ia menyampaikan pergerakan rupiah pada Kamis, 8 Mei berpotensi melemah menuju ke level Rp16.580 per dolar AS, dengan support di kisaran Rp16.480 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 7 Mei, Kurs rupiah spot di tutup turun 0,53 persen ke level Rp16.536 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,37 persen ke level harga Rp16.533 per dolar AS.