JAKARTA - Pengusaha yang tergabung di dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) optimistis ekspor industri mebel Indonesia bisa tumbuh 8 hingga 12 persen di tahun ini.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan target transaksi yang dipasang berada di angka 2,1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp34,21 triliun (dengan kurs Rp16.294 per dolar AS).
Lebih lanjut, Abdul Sobur mengatakan target yang dipasang tersebut juga sudah mempertimbangkan kondisi geopolitik saat ini.
“Dengan gonjang-ganjing seperti ini, harusnya bisa mencapai 8 persen sampai 12 persen dari pertumbuhan tahun 2020. Mestinya sih sudah bisa tembus ke angka 2,1 miliar dolar AS gitu ya, untuk sampai akhir 2025,” kata Abdul dalam konferensi pers Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025, di JiExpo Kamayoran, Jakarta, Minggu, 9 Maret.
Angka tersebut, sambung Abdul Sobur, di luar dari target ekspor produk kerajinan yang diperkirakan mencapai 800 juta dolar AS atau setara dengan Rp13,03 triliun.
“Kalau kita mengandalkan kerajinan itu tinggal ditambahkan angka kurang lebih 800 juta dolar AS, plus mebelnya di angka 2,1 miliar dolar AS,” tuturnya.
Abdul meyakini masih ada peluang bagi ekspor produk mebel Indonesia di tengah perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.
BACA JUGA:
Pasalnya, sambung Abdul, tingginya tarif impor untuk China, justru bisa membuat perekonomian AS melaju. Sementara, AS merupakan pasar terbesar bagi ekspor industri mebel Indonesia, dimana angkanya bisa mencapai sekitar 250 juta dolar AS tiap tahunnya.
“Jadi kalau Amerika Serikat itu mengalami pertumbuhan, ada tarif yang diberikan ke negara China, itu sepertinya bagus (untuk permintaan dari AS),” kata Abdul.
Di sisi lain, Abdul mengakui saat ini ada kabar yang menyebutkan bahwa Indonesia akan dikenai tarif impor sebesar 20 persen oleh AS. Meski begitu, dia mengaku belum mengetahui penyebab pengenaan tarif tersebut.
Namun, Abdul Sobur menekankan isu ini cukup menjadi perhatian, sebab Indonesia belum memiliki perjanjian dagang dengan negara adidaya tersebut.
“Saya tanya langsung, ke Pak Mendag (Budi Santoso) datang di sini, (jawabannya) belum ada (tarif impor AS) Pak, tapi memang nada-nadanya sih, Indonesia bisa dikenakan tarif, baru rumor sih,” pungkas Abdul.