JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) mengurangi total produksi konsentrat tembaga di tambang miliknya sebesar 40 persen.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Tri Winarno mengatakan, hal ini dikarenakan tempat penyimpanan konsentrat tembaga atau stockpile sudah melebihi kapasitas.
"Kalau stockpile penuh kan otomatis diproduksinya akan turun. (Sekarang) jadi 60 persen," ujar Tri Winarno kepada awak media di Gedung Kementeri ESDM, Jumat, 14 Februari.
Kendati demikian Tri tidak menyebut dengan pasti sejak kapan Freeport menurunkan kapasitas produksinya.
Penurunan produksi ini juga disebabkan PTFI yang belum mendapat izin ekspor konsentrat tembaga dari pemerintah.
Asal tahu saja, izin ekspor konsentrat tembaga telah berakhir sejak 31 Desember 2024. Di sisi lain, PTFI juga belum bisa melakukan produksi lantaran operasional smelter milik PTFI di Gresik yang terhenti sementara waktu imbas kebakaran yang terjadi di unit pengolahan asam sulfat.
Tri mengakui memang hingga saat ini pemerint belum memberikan izin ekspor konsentrat karena baru merampungkan proses investigasi atas smelter yang terbakar.
BACA JUGA:
"Engga ada unsur kesengajaan. kalau ada kesengajaan asuransi dia ga cair. Itu kan diasuransikan," beber Tri.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PTFI untuk segera memberikan laporan masa tenggat perbaikan smelter manyar jika ingin pemerintah menerbitkan surat rekomendasi ekspor.
"Jadi saya bilang sama dia (Dirut Freeport), boleh saya kasih izin, tetapi you harus teken kapan perbaikan (smelter) ini selesai. Supaya kita fair. Karena (smelter katoda milik) Amman, di Nusa Tenggara Barat, itu sudah berjalan. Jadi konsentrat tidak ada lagi yang kita ekspor,” ujar Bahlil, Selasa, 11 Februari.