JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka kemungkinan RI untuk mengimpor minyak dari Rusia usai bergabung dalam forum ekonomi Brasil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).
Dengan menganut asas politik bebas aktif, sehingga Indonesia bisa membuka kerja sama dengan negara mana pun selama tidak melanggar aturan. Untuk itu Bahlil menyebut sah-sah saja jika nantinya Indonesia membeli minyak dari Rusia.
"Ketika kita bangun dengan BRICS, dan kemudian ada peluang untuk kita mendapatkan minyak dari Rusia, selama itu sesuai aturan, dan tidak ada persoalan, kenapa tidak?" ujar Bahlil yang dikutip Sabtu, 11 Januari.
Apalagi, kata dia, selama ini Indonesia masih melakukan impor minyak dari negara-negara Timur Tengah sehingga tidak menutup kemungkinan akan membeli minyak dari Rusia.
"Jujur-jujur saja selama ini juga kita impor minyak dari Timur Tengah itu Mungkin saja, mungkin saja asalnya mungkin dari sana [Rusia] tapi belum pasti ya,” tutur Bahlil.
Ia menambahkan, tak hanya dengan BRICS, Indonesia juga bisa mengambil peluang kerja sama dengan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) selama hal tersebut membawa keuntungan bagi RI.
"Semua peluang yang menguntungkan Indonesia, baik bergabung dengan BRICS maupun dengan OECD, itu saya pikir nggak ada masalah," imbuh Bahlil.
BACA JUGA:
Sebelumnya Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan juga menyampaikan bergabungnya Indonesia menjadi anggota aliansi Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS), akan memperluas akses pasar salah satunya yaitu mendapatkan pasokan gas dan minyak mentah lebih murah.
"Apa keuntungan kita dengan BRICS, ya market kita lebih besar. Karena ini masalah, kalau kita tidak hati-hati dengan persoalan yang ada di Tiongkok sekarang, dan juga persoalan di Eropa di mana gas sekarang dari Rusia di setop mereka, itu akan terjadi nanti masalah krisis energi di Eropa," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis, 9 Januari.
Luhut mencontohkan Indonesia bisa mendapatkan dan mengakses harga minyak yang lebih murah dari Rusia karena bergabung sebagai anggota BRICS.
"(Beli minyak ke Rusia) kalau menguntungkan republik ini kita beli. Kalau ada dari bulan pun kita beli. Sepanjang itu menguntungkan Republik Indonesia, bisa kita bicarakan kepada beberapa negara-negara lain. Kalau kita dapat lebih murah 20 dolar AS atau 22 dolar AS per barel, kenapa tidak?” katanya.