Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia dapat menghentikan impor garam industri pada 2027.

Trenggono menilai, target ini sangat realistis jika didukung oleh pendanaan yang memadai.

"Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan beliau meminta agar langkah-langkah untuk menghentikan impor segera dilakukan," ujar Trenggono saat ditemui wartawan usai acara IMFBF 2024: Blue Food Competent Authority Dialogue di Jakarta, dikutip Rabu, 11 Desember.

Trenggono menyebut, salah satu strategi utama adalah memanfaatkan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai pusat produksi garam nasional.

Dia menyoroti kesamaan iklim antara NTT dan wilayah Darwin di Australia yang mampu memproduksi hingga 10 juta ton garam per tahun.

"NTT memiliki sekitar delapan bulan cuaca panas dalam setahun, sama seperti di Darwin. Dengan teknologi yang tepat, daerah seperti Sabu dan Malaka di NTT bisa menjadi produsen garam berkualitas tinggi," ucapnya.

Untuk merealisasikan target ini, pemerintah akan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Termasuk PT Garam untuk menjalankan proyek percontohan produksi garam.

Lebih lanjut, Trenggono juga membuka peluang bagi BUMN lain untuk bergabung dalam proyek ini.

"PT Garam pasti terlibat dan mungkin akan ada BUMN baru yang ikut serta. Prosesnya sedang berjalan," ungkapnya.

Sebelumnya, pemerintah memastikan impor garam untuk kebutuhan industri tetap akan dibuka, meski dengan target pengurangan bertahap.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menyatakan, kebijakan ini akan berlaku sementara sambil menunggu kesiapan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan garam industri.

"Yang masih (impor) untuk industri. Pak Sakti Wahyu Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan) minta waktu dua tahun (untuk membangun modeling garam industri)," kata Zulhas saat ditemui wartawan usai acara IMFBF 2024: Blue Food Competent Authority Dialogue di Jakarta, Selasa, 10 Desember.

Zulhas menyebut, pemerintah optimistis target pengurangan impor garam industri dalam dua tahun ke depan dapat tercapai. Hal ini sejalan juga dengan keyakinan Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono yang menyampaikan Indonesia mampu mengembangkan produksi garam industri berkualitas tinggi.

"Mudah-mudahan dua tahun (tercapai) karena Mas Trenggono mengatakan kalau Australia bisa, kalau tempat lain bisa, kenapa kami tidak bisa. Garam industri itu, kan, ada alatnya, ada mesinnya untuk bikin. Kalau orang bisa bikin, masa kami tidak bisa," ucap Zulhas.