Bagikan:

JAKARTA – Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, istilahjob huggingatau memeluk pekerjaan menjadi tren belakangan ini. Generasi Z dan milenial yang terkenal suka berganti pekerjaan pun mulai mempertahankan pekerjaannya meski tak benar-benar bahagia.

Dalam setahun terakhir, jumlah pengangguran di Indonesia terus bertambah, sehingga kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan menjadi sengit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2025 adalah 7,46 juta orang atau 4,8 persen. Berdasarkan penjelasan BPS, angka tersebut artinya ada sekitar lima orang penganggur dari 100 orang angkatan kerja.

Dibandingkan tahun lalu, angka ini lebih rendah, yaitu 7,47 juta dengan nilai TPT 4,91 persen. Di tengah tingginya pengangguran, ditambah angka pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat para pekerja bisa jadi memeluk erat pekerjaan yang dimiliki sekarang, meski tidak bahagia.

Di kalangan pekerja, istilah ini disebutjob hugging.

Fenomena job hugging atau memeluk pekerjaan populer di kalangan generasi Z dan milenial. Tidak hanya di Indonesia, fenomena ini juga terjadi di belahan dunia lain. (Unsplash)

Secara sederhana, istilah job hugging adalah kecenderungan seseorang untuk bertahan di pekerjaan saat ini, meski sebenarnya ada peluang karier yang lain yang bisa jadi lebih baik. Istilah ini kebalikan darijob hopping.

Bukan karena Kepuasaan Kerja

MengutipFast Company, job huggingsering didorong oleh perasaan takut kehilangan stabilitas, baik dari sisi finansial maupun keamanan kerja. Pekerja yang “memeluk pekerjaan” lebih memilih kondisi yang pasti daripada mengambil risiko menghadapi hal-hal yang tidak mereka kenal.

Istilah ini sudah lama menjadi diskusi di Amerika Serikat (AS) setelah Departemen Tenaga Kerja merilis hasil Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja pada Agustus 2025. Hasilnya, tingkat pekerja yang sukarela berhenti dari pekerjaannya hanya sekitar dua persen sejak awal 2025. Di luar pandemi COVID-19, tingkat orang mundur dari pekerjaannya belum pernah serendah ini.

”Ada cukup banyak ketidakpastian di dunia yang dirasakan oleh pekerja AS. Saya pikir ketidakpastian itu menyebabkan pekerja secara alami memilih tetap berada dalam pola bertahan,” kata Matt Bohn, salah seorang konsultan di Korn Ferry.

Di Indonesia sulitnya mendapatkan pekerjaan terlihat dari di lapangan pada bursa-bursa kerja yang digelar sejumlah pihak. Dalam berbagai pemberitaan, jumlah pelamar sangat banyak, padahal lowongan kerja yang tersedia terbatas.

Situasi seperti itulah, salah satunya yang membuat pekerja bertahan dengan pekerjaan saat ini.

Sebagaimana dilansiriHire,job huggingsering kali bukan karena kepuasan kerja, melainkan ketidaknyamanan menghadapi proses rekrutmen baru: mulai dari wawancara, adaptasi, budaya organisasi, hingga risiko tidak cocok di lingkungan kerja yang berbeda.

Meski dikenal sebagai ‘kutu loncat’ atau senang berganti tempat kerja, kenyataannya istilahjob huggingpopuler di kalangan generasi Z dan milenial. Banyak karyawan yang memutuskan bertahan di pekerjaan lama daripada mengambil risiko pindah, karena khawatir tawaran di pekerjaan baru hanya formalitas.

Berdampak pada Kesehatan Mental

Dosen program studi ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Febrian, menilai fenomena job hugging dari sudut pandang ekonomi institusional.

Job Huggingdapat dilihat sebagai respons terhadap biaya transaksi yang dirasakan terkait dengan transisi pekerjaan. Biaya ini meliputi waktu dan usaha yang diperlukan untuk mencari pekerjaan baru, potensi kehilangan manfaat, dan risiko yang terkait dengan memasuki lingkungan kerja yang tidak familiar,” ujar Febrian, mengutip laman Unesa.

“Institusi, termasuk sistem pendidikan dan kebijakan pasar tenaga kerja, memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan perilaku ini,” lanjutnya.

Fenomena job hugging terjadi di berbagai belahan dunia. Menurut surveiGlassdoor Worklife Trends2025, pada akhir tahun lalu menunjukkan pasar kerja dunia sedang lesu. Banyak pegawai merasa tidak berdaya di tengah karier yang mandek.

Menurut Glassdoor, hampir dua dari tiga responden (65 persen) merasa terjebak dalam pekerjaan saat ini. Di bidang teknologi angkanya bahkan mencapai 73 persen.

Sementara itu, surveiResumeBuilder.commenyebut, pada Agustus 2025 sebanyak 45 persen dari 2.221 responden di AS menilai mereka masuk kategorijob hugging. Mereka mempertahankan pekerjaan karena menilai berpindah pekerjaan sangat berisiko dalam kondisi sekarang ini.

Job hugging dapat berdampak pada terhambatnya karier pekerja, capaian perusahaan menurun, dan memengaruhi kesehatan mental karyawan. (Unsplash)

Mereka khawatir soal pasar kerja yang lemah, banyaknya PHK, dan semakin banyak pekerjaan mengandalkan kecerdasan buatan atau AI.

Talent Acquisition ManagerJobstreet by SEEK Ria Novita menuturkanjob huggingbisa berdampak pada terhambatnya karier pekerja. Menurut dia, pekerja bisa kehilangan kesempatan karier lebih baik yang ditawarkan perusahaan lain. Selain itu,job huggingjuga bisa berdampak buruk pada perusahaan. Produktivitas tenaga kerja yang menurun bisa memengaruhi capaian perusahaan secara umum.

Job hugging juga bisa berdampak pada kesehatan mental karyawan.

“Kebutuhan aktualisasi diri yang tidak terpenuhi dalam jangka panjang bisa menyebabkan frustrasi, kehilangan makna pekerjaan, bahkan makna hidup,” ucap direktur dan psikolog Tabula Psychology Arnold Lukito.