Bagikan:

JAKARTA - Alergi makanan pada anak seringkali muncul tiba-tiba dan memicu reaksi serius yang membahayakan kesehatan.

Penyakit alergi terhadap makanan seringkali dipandang remeh oleh kebanyakan orang tua. Padahal alergi makanan bukan hanya persoalan kesehatan, tapi juga berpotensi menghambat tumbuh kembang anak di masa depan. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan betapa pentingnya mengenali dan menangani alergi makanan dengan benar. Harapannya, agar situasi semacam ini tidak berlanjut serta mengancam pencapaian generasi Indonesia Emas 2045.

"Anak-anak yang berulang kali kena alergi tentu tubuh kembangnya terganggu dan bisa menghambat tercapainya generasi emas 2045," ujar Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, dalam seminar daring bertajuk "Alergi Makanan pada Anak: Bagaimana Mengenali dan Mengatasinya" pada Selasa (16/9/2025).

Bahaya Mengonsumsi Makanan Ultra-Processed

Alergi makanan adalah kondisi saat sistem kekebalan tubuh secara keliru menganggap suatu zat seperti dalam makanan tertentu berbahaa bagi tubuh. Makanan yang sering menimbulkan alergi (makanan alergenik) di antaranya udang, susu, telur, kedelai ikan, kacang, kedelai, gandum, kerang, kepiting, dan kelapa.

Alergi makanan semakin banyak dijumpai di Indonesia.  Data World Allergy Organization (WAO) menunjukkan, prevalensi alergi di dunia mencapai 10-40 persen dari populasi. 

Dalam jurnal bertajuk Food allergy in children-the current status and the way forward yang dirilis 2022 dijelaskan bahwa secara global empat persen anak-anak di seluruh dunia mengalami alergi makanan. Prevalensi kasusnya terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Alergi makanan pada anak tidak boleh didiagnosis dan ditangani secara sembarangan. (Unsplash)

Sementara di Indonesia data IDAI mencatat, sekitar 0,5–7,5 persen anak Indonesia mengalami alergi.

Dokter Piprim menjelaskan, kasus alergi makanan pada anak kerap ditemukan karena tingginya konsumsi makanan ultra-processed.

"Makanan ultra-processed yang tinggi glycemic index, yang refined carbs, karbohidrat cepat serat, dan makanan-makanan lain yang juga berpotensi mengganggu kesehatan anak kita. Di antaranya juga adalah masalah alergi pada anak-anak ini," tegas Piprim.

Perlu Pemeriksaan Medis Benar dan Tepat

Meski alergi pada anak sering terjadi, penyakit ini tidak boleh didiagnosis dan ditangani secara sembarangan. Karena, tidak semua gejala sakit pada anak merujuk pada alergi. Butuh pemerksaan medis yang benar sebelum menentkan pantangan diet, agar tidak menimbulkan risiko lebih besar terhadap tumbuh kembang anak.

Dewasa ini, orang tua sering dihinggapi perasaan bingung terkait pola makan anak. Tak sedikit anak yang picky eater atau memilih-milih makanan, selain itu ada pula anak yang mengalami alergi makanan.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, Dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), Subspesialis Alergi Imunologi mengaku sering menemukan berbagai kondisi terkait alergi makanan pada anak, entah itu gagal mendiagosis ataupun justru diagnosis berlebihan.

Secara umum, alergi makanan dibedakan menjadi reaksi cepat (dimediasi antibodi IgE) dan reaksi lambat (dimediasi sel/T-cell). Reaksi cepat biasanya muncul dalam waktu kurang dari satu jam setelah makan, cirinya berupa biduran, bentol, muntah, nyeri perut, hingga reaksi sistemik yang membahayakan jiwa seperti anafilaksis.

Tangkapan layar Bidang Ilmiah Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi IDAI dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.A.Im(K) dalam webinar IDAI yang diikuti, Selasa (16/9/2025).  (ANTARA/Livia Kristianti)

Anafilaksis adalah bentuk reaksi paling serius. Kondisi ini ditandai gejala pada sedikitnya dua organ, misalnya bentol disertai sesak atau muntah disertai pingsan. Penanganan yang cepat dengan obat darurat sangat penting untuk menyelamatkan jiwa anak.

"Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk menyelamatkan jiwa anak. Namun, di lapangan, anafilaksis sering tidak terdiagnosis dengan benar sehingga banyak kasus lolos dari penanganan optimal," ucap dr. Endah.

Sedangkan reaksi lambat bisa muncul beberapa jam setelah makan, dengan gejala lebih lama seperti diare, buang air besar berdarah, muntah berulang, atau dermatitis.

Memicu Kecemasan Keluarga

Reaksi alergi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga memicu kecemasan keluarga karena harus ekstra hati-hati menghindari makanan pemicu.

Namun, dr. Endah menjelaskan bahwa tidak semua gejala pada anak seperti gumoh, kolik, atau diare berarti alergi makanan. Eksim atau biduran pun lebih banyak dipicu oleh faktor lingkungan atau infeksi.

Begitu pula dengan masalah kulit seperti dermatitis atopun atau eksim, penyebab utamanya belum tentu alergi makanan. Eksim lebih banyak dipicu oleh gangguan barier kulit yang rusak sehingga mudah meradang akibat faktor lingkungan, seperti rumah yang berdebu, dan pousi.

Untuk mengatasinya, bukan dengan pantangan makanan, melainkan memperbaiki kulit dengan pelembab dan menghindari pencetus lingkungan. Pantangan makan yang tidak perlu justru bisa meningkatkan risiko sensitisasi dan menyebabkan alergi makanan di kemudian hari.

"Kalau anak tidak ada diagnosis definitif dia alergi makanan jangan dipantang karena kita mau memastikan bahwa terjadi oral exposure yang bisa menyebabkan toleran,” pungkasnya.