Bagikan:

JAKARTA – Kehadiran Merah Putih: One for All dianggap telah menurunkan standar film animasi Indonesia, yang pernah digadang-gadang bakal melesat seusai kesuksesan film Jumbo.

Perayaan HUT ke-80 Indonesia diwarnai tayangan film Merah Putih: One for All. Film ini mengangkat tema kebangsaan dan mencoba mencerita petualangan mencari bendera Merah Putih yang hilang di sebuah desa. Delapan anak yang ditugaskan untuk misi itu kemudian harus melewati berbagai tantangan.

Namun alih-alih membangkitkan rasa nasionalisme, film Merah Putih: One for All justru banjir kritik, bahkan sejak kemunculan poster dan trailer film tersebut.

Film yang disutradarai oleh Endiarto dengan dukungan Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail panen hujatan. Mulai dari kualitas gambar yang buruk, rumor soal adanya bantuan pemerintah sebesar Rp6,7 miliar, sampai keheranan publik soal film Merah Putih: One for All mendapat slot tayang di bioskop Tanah Air padahal ada ratusan film lainnya mengantre.

Kebangkitan Film Animasi

Film animasi di Indonesia bermula pada tahun 1955 lewat hadirnya Si Doel Memilih karya Dukut Hendronoto atau akrab disapa Pak Oot. Film dua dimensi hitam putih ini dibuat sebagai bagian kampanye pemilihan umum pertama.

Perkembangan animasi berlanjut ke layar kaca dengan serial Si Huma yang tayang di TVRI pada 1983. Ini juga menandai awal animasi anak di televisi nasional sebelum akhirnya muncul tayangan animasi seperti Satria Nusa dan Petualangan Si Kancil pada 1990-an.

Poster Jumbo, film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan raihan 10 juta penonton lebih. (Instagram/visinemaid)

Setelah itu, muncullah film-film animasi yang meraih penghargaan berbagai festival dan meramaikan bioskop seperti Battle of Surabaya, Si Juki the Movie: Panitia Hari akhir, Knight Kris, Riki Rhino, Nussa, dan teranyar film animasi paling fenomenal, Jumbo.

Film Jumbo yang disutradai Ryan Adriandhy resmi menjadi film terlaris sepanjang masa dengan jumlah penonton mencapai 10.073.332, melengserkan KKN di Desa Penari dari peringkat teratas.

Sukses Jumbo juga disebut-sebut sebagai tonggak kebangkitan film animasi Tanah Air. Besar harapannya, film animasi ke depan akan mampu mengalahkan kualitas film-film karya Disney atau Pixar.

Namun hanya selang beberapa bulan setelah Jumbo turun layar, muncul Merah Putih: One for All yang dari segi kualitas dianggap jauh di bawah film pengisi suaranya Ariel Noah, Bunga Citra Lestara, Prince Poetiray, hingga Quin Salman.

Belum Layak Tayang di Bioskop

Film Merah Putih: One for All langsung dihujani kritik. Bermodal trailer dan poster, banyak warganet menilai kualitas visualnya jauh dari layak untuk standar layar lebar, apalagi jika mengingat anggaran yang kabarnya mencapai Rp6,7 miliar.

Sang produser, Toto Soegriwo, kemudian mengklarifikasi soal tudingan bahwa filmnya mendapat kucuran dana dari pemerintah. Ia juga meminta masyarakat untuk tidak ikut menyebarkan informasi yang tidak benar, serta menghentikan segala bentuk hujatan dan fitnah.

Yusron Fuadi, sutradara sekaligus dosen Animasi, Game, dan Multimedia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Menurutnya, kualitas animasi film tersebut dinilai belum layak tayang di bioskop.

“Kalau kualitasnya ya belum standar layar lebar, masih kayak previsualisasi atau storyboard tapi animasi sederhana,” ujarnya.

Dengan anggaran yang dikabarkan mencapai Rp6,7 miliar, menurut Yusron wajar jika publik bereaksi keras. Menurutnya, dana sebesar itu sebenarnya cukup untuk menghasilkan animasi berkualitas, asal cerita dibuat efisien, jumlah karakter dibatasi, dan tidak memaksakan penggunaan aktor papan atas sebagai pengisi suara.

“Banyak hal yang bisa memperburuk hasil akhir. Tapi kalau ujung-ujungnya gambar tetap jelek, itu sudah jadi bukti yang paling terlihat,” tegasnya.

Jauh dari Standar Masyarakat

Sukses film Jumbo yang hadir dengan pencapaian kualitas cerita dan animasi papan atas pun bisa menjadi melatarbelakangi kritik keras masyarakat terhadap film Merah Putih: One for All, menurut pengamat film nasional Benny Benke.

Jumbo yang telah berhasil menembus pasar Malaysia dan beberapa negara tetangga telah menjadi benchmark bagi pecinta film animasi Indonesia.

"Bisa jadi (benchmark), karena sudah terlanjur diberi suguhan apalagi film-film dari Hollywood yang kualitasnya kita tahu seperti itu. Jumbo juga sudah luar biasa, diputar di Malaysia, beberapa negara jiran, dan mungkin nanti beberapa Eropa juga mereka sudah melakukan pendekatan," kata Benke. 

"Ya benchmark-nya di situ mereka secara tidak langsung ingin mendapatkan paling tidak se-level dengan yang sudah ditonton. Itu hal yang biasa saja," lanjut Benke.

Poster salah satu film animasi Indonesia berjudul Battle of Surabaya yang tayang pada 2015. (Instagram/battleofsurabayathemovie)

Benny menjelaskan, secara tidak langsung, penonton mengharapkan kualitas yang setidaknya setara dengan Jumbo. Apalagi, film tersebut sukses meraih lebih dari 10 juta penonton, meski jumlah itu menuai perdebatan terkait keasliannya.

“Yang pasti mungkin layar bioskopnya dapat dipastikan tidak semasif, katakanlah dibandingkan Jumbo,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM Budi Irawanto. Terlepas dari berbagai tudingan yang diarahkan ke para pembuat film Merah Putih: One for All, Budi menganggap kualitas film ini pun memang jauh dari standar masyarakat. Terlebih, penonton sudah disuguhkan standar Jumbo dan terekspos film-film berkualitas produksi studio ternama, seperti Ghibli, Disney, dan Pixar.

“Dengan kita baru saja ada gema atau hype Jumbo gitu ya, yang memang secara production value, ya cerita, kemudian ini sangat oke secara visual dan segala macem,” kata Budi.