JAKARTA – Dongeng klasik Cinderella yang menceritakan seorang perempuan menikah dengan berstatus sosial dan ekonomi lebih tinggi menjadi dambaan banyak perempuan. Namun perlahan, narasi seperti itu mulai tergeser.
Dalam beberapa tahun terakhir, justru banyak cerita soal perempuan menikahi laki-laki dengan penghasilan dan atau tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dirinya.
Sosiolog dari Universitas di Wina, Austria, Nadia Steiber menuturkan, seiring dengan makin banyaknya perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi dan mencapai kemandirian finansial, “pemikiran tradisional” harus menikahi pria kaya justru mulai bergeser.
“Jumlah perempuan berpendidikan lebih tinggi jauh melampaui laki-laki,” kata Nadia Steiber.
Dengan kondisi ini, maka muncul anggapan bahwa sebaiknya perempuan mencari pasangan yang setara, baik dari segi pendidikan maupun status sosial ekonomi.
Namun kenyataannya, ternyata seringkali perempuan justru memilih pasangan dengan status yang lebih rendah.
Perubahan Akses Pendidikan
Fenomena ini kemudian dikenal dengan sebutan hipogami.
Hipogami adalah suatu kondisi ketika perempuan memilih pasangan dari strata sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih rendah. Konsep ini dianggap menantang norma lama seperti homogami, yaitu pasangan dari latar belakang serupa, dan hipergami atau perempuan yang biasanya menikah dengan laki-laki berstatus lebih tinggi.
Jika dulu hipogami dianggap tabu atau bahkan merugikan perempuan, sekarang ini justru makin banyak perempuan yang tidak lagi menjadikan status sosial atau finansial pasangannya sebagai tolok ukur utama. Bagi perempuan, terutama yang sudah matang, justru keintiman emosional, rasa aman, dan keterhubungan jauh lebih penting dibanding gelar atau penghasilan pasangan.
Fenomena hipogami yang ramai diperbincangkan belakangan ini terjadi bukan tanpa alasan. Adanya perubahan signifikan dalam akses pendidikan disebut menjadi salah satu faktor penyebab utama.
Dalam studi berjudul The End of Hypergamy: Global Trends and Implications mencatat bahwa kesenjangan pendidikan antara laki-laki dan perempuan yang selama ini berpihak pada laki-laki telah berbalik arah.
Pada 2010, jumlah perempuan berusia 25-29 tahun yang memiliki pendidikan tinggi melampaui laki-laki di lebih dari 139 negara. Ke depannya, tren ini diprediksi akan berlanjut di hampir seluruh dunia, kecuali beberapa negara di Afrika dan Asia Barat.
BACA JUGA:
Namun tren hipogami bukan hanya soal statistik. Ada pergeseran nilai dan preferensi dalam membangun sebuah hubungan. Saat ini banyak perempuan lebih mengutamakan kecocokan emosional, kesetaraan pandangan hidup, serta kemampuan berkomunikasi, dibandingkan latar belakang ekonomi atau gelar akademik.
Michelle Begy, perantara perjodohan dari Ignite Dating, menuturkan bahwa banyak dari mereka yang kini lebih memprioritaskan keselarasan emosional, nilai-nilai yang sama, dan rasa saling menghormati daripada hanya penanda status konvensional.
"Perubahan ini mencerminkan pergeseran besar menuju hubungan yang lebih egaliter, yang lebih menekankan pada kualitas hubungan dan pemenuhan pribadi ketimbang struktur yang bersifat hierarkis," katanya.
Menantang Norma Tradisional
Studi Pew Research Center pada 2023 menunjukkan, sebanyak 24 persen perempuan yang terikat pernikahan heteroseksual di Amerika Serikat memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan suami mereka. Jumlah ini naik 19 persen dibandingkan data pada 1972.
Studi yang sama mengungkap sekitar 29 persen dari total pasangan pernikahan yang diteliti, baik suami dan istri memperoleh penghasilan yang hampir sama.
Saat ini, ada sekitar 16 persen pasangan dengan perempuan sebagai pencari nafkah, meski model hubungan tradisional dengan suami sebagai pencari nafkah utama masih mendominasi lebih dari separuh pasangan.
Yang menarik, selama lima dekade terakhir proporsi perempuan yang penghasilannya setara atau bahkan lebih dari suami meningkat hampir tiga kali lipat. Perubahan ini menantang norma gender yang berlaku sejak lama.
Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun ini, sekitar 18 persen perempuan Indonesia berpendidikan tinggi menikah dengan pria yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Angka ini menunjukkan tren yang meningkat dibandingkan lima tahun lalu, di mana angkanya masih berada di bawah 12 persen.
Meski angkanya mengalami peningkatan, hipogami menghadapi tantangan, yaitu stigma sosial. Dalam budaya patriarki, laki-laki masih sering diharapkan menjadi pihak yang lebih dominan secara ekonomi maupun intelektual dalam sebuah hubungan.
Fenomena hipogami mencerminkan transformasi sosial yang lebih luas, di mana norma-norma tradisional mulai ditantang oleh nilai-nilai kesetaraan dan individualisme. Di masa depan, tren ini diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya hubungan yang setara dan berbasis rasa saling percaya.
Di sisi lain, hipogami dapat meningkatkan beban ganda bagi para perempuan. Karena meski perempuan menjadi tulang punggung finansial utama, tetap ada ekspektasi agar tetap memenuhi peran domestik juga.
Dengan kata lain, selain menjadi pencari nafkah, perempuan juga masih harus mengurus rumah, melayani pasangan, dan mengasuh anak.
Hubungan hipogami yang tidak sehat juga bisa menimbulkan ketimpangan status, menimbulkan rasa tidak aman atau perasaan inferior dari pihak pasangan laki-laki, yang bisa berujung pada konflik relasi.
Karena, laki-laki yang terjebak dalam rasa inferior berpotensi menimbulkan bentuk-bentuk kekerasan emosional atau psikologis. Saat maskulinitas laki-laki terancam, seringkali perempuan yang harus menanggung dampaknya.