Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Kuba pada Jumat (29/5) mengatakan ancaman agresi Amerika Serikat terhadap negaranya semakin meningkat di tengah tekanan ekonomi dan pengetatan sanksi.

"Bahaya agresi militer terhadap Kuba meningkat setiap hari," kata Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Josefina Vidal Ferreiro dalam sidang parlemen dilansir ANTARA dari Sputnik.

Menurut Ferreiro, AS telah meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba dalam beberapa bulan terakhir melalui langkah-langkah pembatasan untuk melumpuhkan perekonomian negara tersebut dan memicu krisis kemanusiaan.

"Perang ekonomi yang diberlakukan lebih dari enam dekade lalu telah diperketat dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir," katanya.

Ferreiro juga menuduh AS menciptakan dalih baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Kuba dan berpotensi membenarkan tindakan militer terhadap negara itu.

Ia menambahkan Kuba telah mengkritik tuduhan terhadap pemimpin revolusioner Raul Castro dan menyebutnya sebagai insinuasi kasar dan tidak berdasar.

Menurut dia, Kuba tidak menimbulkan ancaman dan tidak melakukan aktivitas bermusuhan terhadap AS.

"Kuba tidak menginginkan konflik. Kami selalu menjadi negara yang menjunjung perdamaian, solidaritas, dan hubungan saling menghormati dengan negara lain," katanya.

Ferreiro menegaskan Kuba akan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya jika menghadapi agresi.

Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan penerapan tarif terhadap impor dari negara pemasok minyak ke Kuba serta menetapkan keadaan darurat nasional dengan alasan dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Menurut pemerintah Kuba, langkah AS tersebut memperburuk kelangkaan bahan bakar dan berdampak pada pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.