JAKARTA - Presiden Guatemala Bernardo Arevalo membantah adanya kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan operasi militer bersama untuk memberantas perdagangan narkoba di wilayah negaranya.
Arevalo mengatakannya pada Kamis 28 Mei waktu setempat setelah laporan The New York Times yang mengatakan negara di Amerika Tengah itu setuju untuk melakukan operasi pemberantasan bersama.
“Tidak ada kesepakatan. Ada permintaan yang termasuk dalam kerangka perjanjian yang ada di beberapa negara,” kata Arévalo dalam konferensi pers, dikutip dari AP, Jumat 29 Mei.
Ini menjadi yang terbaru di tengah masih tegangnya hubungan negara-negara Amerika Latin dengan Pemerintahan Presiden Donald Trump yang melakukan operasi militer dengan dalih pemberantasan narkoba hingga puncaknya penangkapan Presiden Venezuela kala itu, Nicolas Maduro.
“Yang kami tandatangani adalah jenis kolaborasi yang telah terjadi di masa lalu. Kami melakukan pencegahan maritim di mana Amerika Serikat telah berkolaborasi dengan pelatihan, peningkatan kapasitas, dan peralatan,” ujar Arevalo.

Arevalo menekankan kesepakatan bersama dengan AS sejauh ini hanya yang sesuai dengan hukum dan konstitusi Guatemala.
“Satu-satunya badan yang dapat mengesahkan operasi yang melibatkan tentara di wilayah Guatemala adalah Kongres Republik. Pemerintah Guatemala tidak meminta kerja sama ini dan tidak memiliki rencana untuk melakukannya,” kata Arevalo.
SEE ALSO:
- https://voi.id/berita/577613/petinggi-militer-lebanon-israel-bakal-bertemu-di-pentagon-hari-ini
- https://voi.id/berita/577499/duka-warga-gaza-atas-tewasnya-pemimpin-hamas-odeh-tegaskan-perlawanan-palestina-tak-pudar
- https://voi.id/berita/577501/3-tanker-diserang-drone-di-laut-hitam-dekat-turki-diduga-terkait-perang-rusia-ukraina
- https://voi.id/berita/577444/ukraina-ingin-prosedur-gampang-masuk-uni-eropa-kroasia-tidak-ada-jalur-singkat