JAKARTA - Pemerintah Kuba meminta komunitas internasional menunjukkan solidaritas kepada Havana di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat.
"Saya, dengan rendah hati meminta, sudah saatnya untuk menunjukkan solidaritas kepada Kuba, yang selama ini selalu menunjukkan solidaritas kepada pihak lain dan tidak pernah mundur menghadapi risiko apa pun, bahkan terkadang mempertaruhkan nyawa rakyat Kuba,"kata Menteri Luar Negeri (Menlu) KubaBruno Rodriguez Parrilla kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dilansir ANTARA dari Sputnik, Rabu, 27 Mei.
Diplomat Kuba tersebut juga mendesak Amerika Latin dan Karibia untuk mematuhi deklarasi tahun 2014 yang dibuatKomunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) dengan menetapkan kawasan tersebut sebagai zona damai.
"Sudah waktunya bagi upaya internasional yang luas dan melampaui perbedaan politik, pendekatan ideologis, maupun perbedaan sejarah. Sudah waktunya untuk menetapkan batas dan mencegah tindakan yang mengancam serta merugikan kepentingan nasional, yang mengancam seluruh bangsa dan hak kedaulatan semua negara,"lanjut Rodriguez.
Pada 29 Januari, Amerika Serikat memberlakukan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba dan menetapkan keadaan darurat karena dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.
Havana mengatakan Amerika Serikat menggunakan embargo energi untuk mencekik perekonomian pulau tersebut dan memperburuk kondisi hidup penduduknya.
Presiden KubaMiguel Diaz-Canel Bermudez, pada 3 Mei, menegaskan ancaman militer AS terhadap Kuba telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dia memperingatkanagresi terhadap pulau itu akan dibalas dengan tekad rakyat Kuba untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka.
BACA JUGA:
Selain itu, Departemen Kehakiman AS pada 20 Mei mendakwa mantan presiden KubaRaul Castroserta lima perwira militer Kuba terkait insiden penembakan jatuh dua pesawat pada tahun 1996 yang berhubungan dengan kelompok pengasingan berbasis di Miami, Brothers to the Rescue.
Havana menyebut tuduhan tersebut sebagai provokasi politik dan menekankanKuba bertindak untuk membela diri setelah berulang kali terjadi pelanggaran wilayah udara negara itu oleh pesawat milik kelompok tersebut.