Bagikan:

BANTEN - Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai perburuan babi hutan perlu dilakukan secara terkendali untuk membantu petani yang lahannya rusak dan terancam gagal panen.

Bamsoet menyebut gangguan babi hutan sudah menjadi masalah berulang di sejumlah daerah, terutama wilayah pertanian yang berbatasan dengan kawasan hutan.

“Kegiatan berburu babi hutan merupakan respons nyata terhadap keresahan petani yang selama ini menghadapi ancaman nyata dari meningkatnya populasi babi hutan,” kata Bamsoet seusai berburu bersama Jalu Hunter Club dan Ketua Umum Perbakin Banten Irjen Pol Nunung Syaifuddin di Malingping, Lebak, Banten, Jumat malam (22/5).

Menurut Bamsoet, kerusakan tanaman akibat babi hutan tidak hanya memukul pendapatan petani. Dampaknya juga bisa mengganggu rantai pasok pangan.

Ia mengatakan babi hutan mudah berkembang biak dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dalam jumlah besar, satwa itu dapat merusak padi, jagung, singkong, hingga tanaman hortikultura hanya dalam beberapa malam.

“Ketika petani sudah mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, tenaga kerja dan menunggu masa panen berbulan-bulan, lalu hasilnya rusak hanya dalam beberapa malam karena serangan babi hutan, kita tidak bisa diam,” ujarnya.

Bamsoet menegaskan perburuan harus dilakukan berkala, profesional, dan sesuai aturan konservasi serta keamanan. Menurutnya, langkah itu perlu memberi rasa aman bagi masyarakat, bukan menjadi kegiatan sembarangan.

Ia juga mendorong pemerintah daerah dan komunitas terkait menyiapkan langkah jangka panjang. Di antaranya pemetaan wilayah rawan konflik satwa, sistem pelaporan warga, pemantauan lahan pertanian, dan edukasi soal tata kelola habitat.

“Tujuan akhirnya mengurangi keresahan masyarakat, menjaga hasil panen tetap aman, meningkatkan produktivitas pertanian, dan memastikan petani dapat menikmati hasil kerja mereka,” kata Bamsoet.