JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 di Gedung Nusantara DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 20 Mei.
Pidato tersebut menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya seorang presiden menyampaikan langsung pidato KEM PPKF di hadapan DPR RI. Dalam praktik pada tahun-tahun sebelumnya, penyampaian KEM PPKF umumnya diwakili dan dibacakan oleh Menteri Keuangan.
Dengan demikian, agenda besok menjadi catatan baru dalam tradisi penyusunan anggaran negara, di luar pidato kenegaraan presiden yang rutin disampaikan setiap 16 atau 17 Agustus.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan pidato Presiden Prabowo tersebut merupakan pengantar resmi pemerintah dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran 2027.
“Pidato Presiden besok merupakan pengantar pemerintah terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN 2027,” ujar Dasco di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 19 Mei.
KEM PPKF merupakan dokumen penting yang menjadi dasar awal pembahasan RAPBN antara pemerintah dan DPR. Dokumen tersebut memuat proyeksi ekonomi makro nasional serta arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran berikutnya.
Melalui pidato tersebut, Presiden Prabowo diperkirakan akan memaparkan berbagai target ekonomi pemerintah, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga strategi pendapatan dan belanja negara pada 2027.
BACA JUGA:
Agenda pidato Presiden di DPR itu juga dipandang sebagai sinyal kuat keterlibatan langsung kepala negara dalam proses perencanaan fiskal nasional di awal masa pemerintahannya.
Berdasarkan catatan sekilas mengenai sejarah penyusunan anggaran, dokumen KEM-PPKF biasanya dipaparkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Pada Mei 2024, Sri Mulyani mewakili pemerintah menyampaikan target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,1 hingga 5,5 persen, dan pada Mei 2025 menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,2 hingga 5,8 persen.