JAKARTA - Operasi pencarian korban erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara akhirnya ditutup setelah tim SAR gabungan menemukan dua korban terakhir dalam kondisi meninggal dunia pada hari ketiga pencarian, Minggu, 10 Mei.
Dua korban yang ditemukan merupakan warga negara asing (WNA) berinisial H.W.Q.T. (30) dan S.M.B.A.H. (27). Keduanya ditemukan tidak jauh dari lokasi penemuan korban pertama berinisial E (P), warga negara Indonesia, yang lebih dulu ditemukan tewas sehari sebelumnya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyebut, dengan ditemukannya dua korban terakhir tersebut, total korban meninggal dunia dalam insiden erupsi Dukono menjadi tiga orang.
"Setelah proses penemuan, tim SAR gabungan segera melakukan evakuasi dan membawa seluruh jenazah menuju pos penanganan darurat erupsi Gunung Dukono sebelum selanjutnya dirujuk ke RSUD Tobelo untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut," kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu, 10 Mei.
Proses pencarian berlangsung sulit karena korban diduga tertimbun material vulkanik sejak awal erupsi terjadi. Tim SAR sebelumnya telah menandai sejumlah titik menggunakan koordinat GPS pada operasi pencarian Sabtu, 9 Mei, yang kemudian menjadi fokus penggalian hari ini.
Ketebalan material pasir vulkanik membuat proses evakuasi berjalan lambat. Di sisi lain, aktivitas Gunung Dukono masih fluktuatif dan beberapa kali mengeluarkan material erupsi saat pencarian berlangsung.
"Proses evakuasi dua jenazah terakhir sempat mengalami kendala karena posisi korban tertimbun material vulkanik dengan ketebalan dan kedalaman yang cukup signifikan," jelasnya.
Sebanyak 98 personel SAR gabungan dikerahkan dalam operasi tersebut. Mereka dibagi dalam empat regu yang menyisir area lereng hingga jalur pendakian yang diduga dilalui rombongan korban sebelum erupsi terjadi.
Tim gabungan terdiri dari Basarnas, BPBD Halmahera Utara, TNI AD, TNI AL, Polairud, Brimob, ERT Gosowong, PMI, hingga warga setempat.
BACA JUGA:
Di tengah pencarian korban meninggal, tim SAR juga memastikan 15 orang lainnya berhasil selamat. Mereka terdiri dari wisatawan asal Singapura dan warga negara Indonesia yang sempat berada di kawasan pendakian saat aktivitas vulkanik meningkat.
"Dalam operasi pencarian tersebut, dua korban selamat yakni R.S. dan J.A. turut membantu tim SAR gabungan dengan memberikan informasi terkait jalur pendakian serta titik terakhir keberadaan para korban sebelum terjadi situasi darurat akibat erupsi," ungkap Abdul Muhari.
Pascainsiden maut tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara mempertegas larangan aktivitas pendakian Gunung Dukono. Penutupan total sebenarnya sudah diberlakukan sejak 17 April 2026, namun kembali ditegaskan melalui surat keputusan bupati yang terbit pada Jumat, 8 Mei.
Dalam keputusan itu, operator wisata dan penyedia jasa pendakian dilarang membuka akses pendakian bagi siapa pun.
"Pemerintah daerah juga melarang masyarakat maupun wisatawan memasuki kawasan rawan bencana (KRB) dalam radius empat kilometer dari puncak kawah sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," jelasnya.
Pemda juga meminta pengelola wisata lebih aktif menyosialisasikan status bahaya Gunung Dukono kepada wisatawan. Sebab, meski status aktivitas vulkanik terus dipantau, masih banyak pendaki yang mencoba masuk melalui jalur tidak resmi.
Pengawasan di kawasan gunung api aktif tersebut dipastikan akan diperketat. Pemerintah daerah menegaskan pelanggaran terhadap larangan pendakian dapat dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.
BNPB turut mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan aktivitas di zona berbahaya dan rutin memeriksa informasi kebencanaan melalui aplikasi InaRisk Personal BNPB maupun rekomendasi resmi PVMBG.