Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat laporan adanya keberadaan kapal tanker asing di wilayah perairan Indonesia, memastikan pemerintah melakukan verifikasi lapangan terkait hal tersebut.

Hal ini disampaikan Juru Bicara I Kemlu RI Yvonne Mewengkang, terkait laporan mengenai keberadaan kapal tanker terkait Iran di wilayah perairan Indonesia.

TankerTrackers.com yang di situsnya menyebut sebagai pemantau pengiriman minyak mentah dengan spesialisasi pada dark fllet tankers, mengungkapkan adanya dua kapal supertanker terkait Iran yang berada di perairan Indonesia dalam dua unggahan terpisah di media sosial X.

Dalam unggahan pertama pada 3 Mei disebutkan, kapal jenis very large crude carrier (VLCC) milik National Iranian Tanker Company (NITC) dengan nama HUGE (9357183) dilaporkan berlayar melintasi Selat Lombok dan menuju Kepulauan Riau, Indonesia setelah melewati blokade Angkatan Laut AS terkait krisis di Timur Tengah. Kapal tersebut diklaim membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah senilai hampir Rp220 miliar dolar AS (Rp3,8 triliun).

Dalam unggahan kedua di X TankerTrackers.com mengungkapkan kapal tanker DERYA (9569700) juga tengah melakukan yang sama. Dilihat dari situs Vesselfinder dan Marinetraffic, kapal tersebut saat ini dilaporkan berada di wilayah perairan Indonesia.

"Indonesia telah mencatat laporan mengenai keberadaan kapal-kapal asing di perairan Indonesia," kata Yvonne, melansir keterangan Kemlu RI, Rabu (5/5).

Yvonne menerangkan, "aturan navigasi di perairan manapun, termasuk Indonesia, tunduk pada UNCLOS 1982 yang menghormati segala macam rezim lintas di masing-masing zona maritim."

tanker derya
Tangkapan layar posisi kapal tanker DERYA. (Sumber: Marinetraffic.com)

"Pemerintah Indonesia tengah melakukan verifikasi lapangan serta terus lakukan koordinasi internal, dan memandang bahwa kapal-kapal tersebut melaksanakan hak lintasnya sesuai hukum internasional," jelas Yvonne.

"Kami akan terus memantau situasi ini dan berkomunikasi melalui saluran diplomatik yang tepat," tandasnya.

Diketahui, ketegangan pecah di kawasan Timur Tengah, seiring dengan serangan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran yang menewaskan lebih dari 3.300 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026.

Iran membalasnya dengan melakukan serangan ke wilayah Israel, infrastruktur terkait AS di negara-negara tetangga di kawasan, serta memperketat kontrol di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen lalu lintas perdagangan minyak mentah dan gas dunia.

Amerika Serikat kemudian mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang hendak keluar-masuk pelabuhan Iran.