JAKARTA - Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama budaya, dari pengelolaan museum, situs warisan, film, animasi, hingga sastra. Agenda ini dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard di Paris, Jumat, 24 April.
Pertemuan itu menjadi tindak lanjut Joint Cultural Strategy atau Deklarasi Borobudur yang disepakati Presiden Indonesia dan Presiden Prancis pada 2025. Bagi Indonesia, kerja sama ini penting karena warisan budaya tidak cukup dijaga, tetapi juga harus dikelola, diteliti, dipamerkan, dan memberi nilai bagi ekosistem kreatif.
“Indonesia memandang Prancis sebagai salah satu mitra budaya terpenting di Eropa,” kata Fadli Zon. Ia menyebut kerja sama kedua negara sejak 2025 makin konkret, dari museum, warisan budaya, industri budaya, literasi, sampai pertukaran talenta.
Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard mengatakan Prancis menyambut penguatan kerja sama budaya dengan Indonesia.
“Prancis dan Indonesia memiliki kemitraan budaya yang semakin kuat dan konkret. Kami ingin melanjutkan momentum ini melalui kerja sama yang mempertemukan warisan budaya, penciptaan kontemporer, mobilitas profesional, dan penguatan ekosistem kebudayaan di kedua negara,” ujar Pégard.
BACA JUGA:
Dalam pertemuan itu, kedua pihak menegaskan sejumlah proyek, termasuk pengembangan Borobudur dan Prambanan serta pembentukan Museum Academy di Indonesia.
Dua perjanjian kerja sama juga ditandatangani. Pertama, antara École du Louvre dan Indonesian Heritage Agency. Kedua, antara Centre des Monuments Nationaux dan InJourney. Kerja sama ini melanjutkan kolaborasi yang sudah berjalan, termasuk antara GrandPalaisRmn dan IHA.
Di sektor museum, seperti keterangan tertulis yang diterima VOI, Indonesia dan Prancis mendorong mobilitas mahasiswa dan profesional. Profesional Indonesia akan mendapat peluang ditempatkan di sejumlah museum besar di Paris. Kedua negara juga menyiapkan proyek pameran berskala besar dan riset bersama dengan École française d’Extrême-Orient terkait artefak Hindu-Buddha serta situs warisan budaya Indonesia.
Kerja sama juga mencakup pengembangan film dan animasi. Kedua menteri mencatat Indonesia-France Film Lab, keterlibatan La Fémis dan CNC, rencana pertemuan produksi bersama di Paris pada Desember 2026, serta program Next Step Studio Indonesia menjelang Festival Film Cannes 2026.
Indonesia juga menyambut partisipasi perdana dalam Annecy International Animation Film Festival. Di sisi lain, kedua negara mendorong pelestarian dan restorasi warisan film.
Di bidang literasi, kedua pihak mendukung pembentukan Choix Goncourt Indonésie, penguatan Read Indonesia, serta kerja sama dengan Centre national du livre untuk residensi, penerjemahan, penerbitan, dan pertukaran sastra.
Kerja sama ini juga membuka ruang bagi mahasiswa dan pekerja budaya Indonesia di lembaga seperti École du Louvre, La Fémis, École Duperré, dan ENSAD-PSL. Bagi Indonesia, kerja sama ini bisa menjadi jalan untuk memperkuat pengelolaan museum, memperbaiki cara merawat arsip dan artefak, serta membuka akses lebih luas bagi pekerja budaya muda ke jaringan internasional.