JAKARTA - Indonesia dan Prancis mempercepat realisasi kerja sama museum dan warisan budaya dengan membentuk langkah operasional melalui tim khusus kebudayaan. Agenda ini dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI dan Duta Besar Prancis Fabien Penone di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (27/1).
Pertemuan ini menindaklanjuti kesepakatan kedua negara saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron di Borobudur pada Mei 2025. Pemerintah Prancis memperkenalkan task force yang berisi Centre des Monuments Nationaux, Grand Palais RMN, dan École du Louvre untuk mengeksekusi program berdasarkan kebutuhan Indonesia.
Enam kerja sama dibahas, mencakup film dan audiovisual, permuseuman, kajian koleksi bersama École Française d’Extrême-Orient, hingga penguatan pengelolaan dan nilai ekonomi museum serta situs warisan. “Deklarasi Borobudur menjadi fondasi kerja sama jangka panjang dengan museum dan situs warisan sebagai pintu masuk diplomasi budaya,” kata Menteri Kebudayaan.
BACA JUGA:
Indonesia juga memaparkan temuan seni gua tertua di dunia di Muna berusia sekitar 67.800 tahun serta penguatan pengelolaan Situs Sangiran. Topik ini dinilai membuka ruang riset, konservasi, dan pengembangan narasi ilmiah bersama lembaga Prancis.
Fabien Penone menyebut Indonesia mitra strategis Prancis dalam kajian prasejarah dan kebudayaan. “Kerja sama ini membangun solusi dari kebutuhan Indonesia, termasuk penguatan museum, pendidikan, dan mobilitas akademik,” ujarnya.
Tahap awal difokuskan pada peningkatan nilai ekonomi museum lewat teknologi digital, pengembangan area komersial, serta pelatihan museologi dan konservasi, dengan Museum Nasional ditargetkan menjadi model. Kedua negara juga memperkuat skema beasiswa dan mobilitas akademik melalui program Prancis–LPDP.