Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong pemajuan kebudayaan tidak berhenti di pelestarian. Arah yang dibidik adalah masuk ke pariwisata, ekonomi kreatif, hingga olahraga berbasis budaya.

Gagasan itu mengemuka saat Fadli menerima Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 13 April. Keduanya membahas pengembangan sektor budaya dari hulu hingga hilir, termasuk peluang memperluasnya ke sport tourism dan kolaborasi internasional.

Fadli menegaskan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif saling beririsan sehingga membutuhkan langkah yang terhubung. Salah satu fokus yang disorot ialah penguatan pariwisata budaya, termasuk pembenahan kawasan bersejarah seperti keraton dan istana di berbagai daerah.

“Kita bekerja di hulu, tengah, sampai hilir. Seharusnya pariwisata yang melewati kita. Karena itu, kita ingin membenahi berbagai potensi budaya, termasuk keraton dan istana di seluruh Indonesia,” kata Fadli.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan kekayaan intelektual atau intellectual property dalam pengelolaan dan komersialisasi warisan budaya. Menurut Fadli, kekayaan budaya Indonesia bisa dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tinggi, tanpa melepaskan autentisitas dan etika pelestarian.

“Kalau kita bisa mengembangkan produk-produk turunan budaya dengan kualitas tinggi, ini bukan sekadar souvenir biasa, tetapi direproduksi secara profesional dengan melibatkan perajin lokal, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas akses publik terhadap warisan budaya,” ujarnya.

Dalam diskusi itu, Sapta Nirwandar mendorong kolaborasi kebudayaan internasional yang bertumpu pada kesamaan tradisi, salah satunya kerajinan berbasis bambu. Menurutnya, bambu bukan hanya terkait pelestarian alam dan budaya, tetapi juga punya nilai industri yang bisa dikembangkan lebih jauh.

“Selain sebagai bagian dari pelestarian alam dan budaya, bambu juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kreatif. Berbagai produk inovatif telah dihasilkan di berbagai negara, mulai dari alat musik, furnitur, hingga produk fungsional seperti sepeda dan instrumen lainnya berbasis bambu,” kata Sapta.

Selain itu, keduanya membahas pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis agama dan budaya, seperti Borobudur dan Prambanan. Ruang budaya juga dinilai bisa diperluas menjadi panggung pariwisata olahraga, dengan contoh Tour de Singkarak dan Borobudur Marathon.

Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan melanjutkan diskusi untuk mencari formula yang lebih tepat, agar potensi budaya bisa terhubung dengan pariwisata dan ekonomi kreatif secara lebih terarah.