Bagikan:

JAKARTA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, Esmaeil Baghaei mengatakan kesepakatan perundingan AS-Iran di Pakistan gagal karena dipaksakannya perbedaan yang signifikan ketika negosiasi berlangsung.

Baghaei awalnya beranggapan setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, muncul negosiasi untuk mencapai kesepakatan menjadi permanen dengan poin-poin perundingan yang cenderung dipaksakan.

"Pembicaraan ini diadakan setelah 40 hari perang yang dipaksakan, dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan," kata Baghaei dalam pernyataannya kepada media berita Iran SNN, dikutip dari NBC News, Minggu 12 April

Ia pun memandang Iran tidak akan berharap pada kesepakatan yang instan, mengingat negosiasi yang terjalin antara Iran dengan AS sebelumnya gagal akibat adanya pelanggaran kesepakatan.

"Tentu saja, kita seharusnya tidak mengharapkan kesepakatan hanya dalam satu pertemuan dan tidak ada yang memiliki harapan seperti itu," tuturnya.

Baghaei kemudian mengatakan titik temu ditemukan pada sejumlah isu dalam negosiasi AS-Iran yang ditengahi Pakistan di Islamabad. Namun, Baghaei menjelaskan: "pada dua atau tiga topik utama terdapat perbedaan yang signifikan dan, pada akhirnya, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan."

Baghaei menilai perundingan damai secara tidak langsung antara AS-Iran ditengani Pakistan di Islamabad menjadi sesi perundingan terpanjang dalam setahun terakhir, dengan negosiasi mencakup topik-topik baru seperti Selat Hormuz dan isu-isu regional.

Ia menekankan kepentingan dua pihak yang terlibat dalam negosiasi ini harus sama-sama diperjuangkan.

"Dalam keadaan apa pun, aparat diplomatik harus memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat Iran," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance mengatakan delegasi AS meninggalkan Pakistan hari ini, Minggu 12 April.

Mengutip The Telegraph, Vance mengatakan negosiasi AS-Iran selama 21 jam terakhir tidak mencapai kesepakatan.

Ia menjelaskan, kegagalan perundingan damai tersebut karena Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan AS, termasuk komitmen untuk tidak membangun senjata nuklir.

Sementara itu, media pemerintah Iran mengatakan perundingan tersebut gagal karena "tuntutan yang tidak masuk akal" dari AS.