JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta mulai melakukan pendataan administrasi kependudukan bagi pendatang baru pascalebaran 2026. Upaya ini dilakukan untuk memastikan data warga tetap akurat di tengah potensi lonjakan urbanisasi.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta Denny Wahyu Haryanto mengatakan, pihaknya akan menggelar layanan jemput bola langsung ke lingkungan warga.
"Mulai tanggal 1 April sampai 20 April 2026 Disdukcapil berserta Jajaran dari Sudin Kota/Kab, Sektor Dukcapil Kecamatan dan Satpel Dukcapil Kelurahan akan melaksanakan sosialisasi dan Layanan Adminduk Jemput Bola ke Pos RW," kata Denny kepada wartawan, Kamis, 2 April.
Layanan ini dilakukan secara kolaboratif dengan pemerintah kota/kabupaten, kecamatan, hingga kelurahan. Pendekatan ini dipilih agar para pendatang baru bisa langsung mengurus dokumen kependudukan tanpa harus datang ke kantor pelayanan.
Denny menegaskan, Jakarta tetap terbuka bagi pendatang yang ingin mencari penghidupan maupun berkontribusi membangun kota. Namun, ia mengingatkan pentingnya kesiapan sebelum memutuskan datang ke ibu kota.
"Sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional, Jakarta bersifat terbuka bagi para pendatang yang mempunyai niat baik ikut membangun Jakarta," ucap dia.
Denny juga memberikan sejumlah catatan bagi pendatang baru agar dapat beradaptasi dan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Para pendatang diimbau memiliki keterampilan yang dapat menunjang kehidupannya di Jakarta. Lalu, memiliki jaminan alamat tempat tinggal yang jelas di Jakarta baik itu alamat rumah kerabat, keluarga atau sewa atau kontrak.
"Juga melaporkan kedatangannya kepada RT RW setempat 1x24 jam pertama," tutur Denny.
Sebagai catatan, Pemprov DKI mencatat sebanyak 967 pendatang baru melaporkan kedatangannya pada periode 25 hingga 30 Maret 2026. Secara keseluruhan, tercatat ada sebanyak 967 jiwa pendatang baru.
Dari jumlah tersebut, proporsi laki-laki sedikit lebih dominan yakni mencapai 51,5% (498 jiwa) dibandingkan perempuan yang sebesar 48,5% (469 jiwa). Tren kedatangan menunjukkan peningkatan harian yang cukup konsisten, di mana pada hari terakhir pencatatan (30 Maret), terdapat penambahan 334 orang, meningkat 24,6% dibandingkan periode beberapa hari sebelumnya.
Jika dilihat dari sebaran wilayah tujuannya, Jakarta Timur menjadi primadona bagi para pendatang dengan jumlah mencapai 270 orang (27,92%), diikuti oleh Jakarta Barat (239 orang) dan Jakarta Selatan (225 orang). Jakarta Pusat dan Kepulauan Seribu menjadi wilayah dengan jumlah kedatangan paling rendah.
BACA JUGA:
Adapun alasan utama perpindahan ini didominasi oleh faktor keluarga (311 orang), diikuti oleh alasan lainnya (262 orang), pekerjaan (190 orang), serta kebutuhan akan perumahan (156 orang).
Secara demografis, mayoritas pendatang baru merupakan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang berjumlah 779 jiwa atau mencakup lebih dari 80 persen total pendatang. Kelompok usia anak (0-17 tahun) berada di angka 21,72 persen, sementara lansia hanya sebesar 2,9 persen.